RINGKASAN
RAGI CARITA
Oleh
:
Nama : Marfiyanti
Saingo
Mata Kuliah : Sejara
Gereja di Indonesia
Dosen : Andreas.
L
SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERPADU-PESAT
SALATIGA
2014
RAGI
CARITA
Sejarah gereja adalah sejarah panggilan Tuhan dan sejarah
jawaban yang diberikan manusia kepada panggilan itu. Bentuk panggilan turut
dipengaruhi oleh latar belakang sang sendeling.oleh kebudayaan, hubungan
politik negeri asalnya, dan daerah
dimana ia mengabarkan Injil. Corak jawaban yang diberikan oleh mereka yang
diInjili, pertama-tama ditentukan oleh panggilan yang telah disampaikan kepada
mereka. Apa tujuan pemberitaan Firman, membawah pembaharuan untuk manusia
beserta seluruh dunianya ataupun menyelamatkan jiwa manusia dari dalam dunia,
bentuk pekabaran injil tak bisa mempengaruhi corak jawaban yang akan diberikan
kelak oleh mereka yang menerimah Firman akibatnya.
Di wilayah indonesia terdapat sejumlah besar Gereja-gereja.
Masing-masing gereja itu mempunyai sejarah mesing-masing dengan berbeda, namun dalam
sejarah itu muncul unsur-unsur yang sama karena semua Gereja itu merupakan
pewujudan Gereja Kristen yang Esa dan Am yang merupakan satu kesatuan di bangsa
Indonesia.
Beberapa persoalan yang kita hadapi dalam membahas sejarah
Gereja Indonesia secara Khususnya:
1. Titik
pemulaan sejarah Gereja di Indonesia tidak ada kepastian apa lagi mengenai
jemaat-jemaat yang mungkin mereka dirikan. Lain hal nya dengan dengan
jemaat-jemaat yang oada abad ke-16 didirikan oleh pekabar-pekabar injil katolik
Romah di Minahasa, maluku dan Nusa Tenggara Timur. Permulaan sejarah gereja
Indonesia ialah saat pelayannan babtisan kepada seorang indonesia. Yang pertama
kali melayani baptisan di indonesia adalah khatolik, oleh karena itu dianggap
bahwa sejarah Gereja Indonesia telah mulai pada abad ke 16.
2. Persoalan
lain ialah: sejara gerereja tidak lepas dari sejarah dunia, ia malah sebagian
dari padanya. Agak anae rasanya jikalau kalau sejarah itu diceritakan sampai
datangnya VOC.bagi periode setelah tahun 1800 kami menganggap lebi baik kami
membahas sejarah GKR dari beberapa pasal terdiri. Pembagian bahanmerupakan soal
yang cukup rumit, caranya ialah kita pilih segi perkembangan organisasi gereja
lalu kita menetapkan pembagian sesuai dengan tahap-tahap perkembangan segi
organisasi itu.
Dr muller-Kruger dalam bagian pertama bukunya bertolak dari
segi siapa pemberitaan injil. Dengan demikian diperoleh periodisasi sebagai
berikut: 1520-1605, zaman misi khatolik Roma; 1605-1800, Zaman Zending VOC,
1800-1940 zaman zending oleh lembaga-lembaga pekabaran injil. Yang menentuka
batas waktu periode pertama (1522-1800) ialah pertimbangan-pertimbangan yang
berikut, dalam periode itu negara (Portugis, VOC) memainan peranan penting
dalam perluasan dan dalam pemerintahan Gereja dilain pihak misi zending
diselenggarakan oleh suatu lembaga gereja dan membawah suatu bentuk ibadah dan
ajaran yang berlaku dalam gereja itu.
Agama dan masyarakat
Indonesia asli
Sebelum Agama Kristen mulai masuk ke Indonesia, agama di
negeri ini sudah melalui sejarah yang panjang dan yang berbelat-belit,
kitamenyebutnya agama suku. Sebutan agama suku tepat sekali, sebab agama-agama
itu memang masing-masing tterikat pada salah satu suku. Sukuh serta
bagian-bagian suku, marga, merupahkan persekutuan ibadah. Suku itu mempunyai
cerita-cerita atau mitos yang menceritakan asal-usul suku yaitu silsilanya yang
melalui nenek moyang naik sampai kepada dewa-dewa.
Dalam lingkungan agama suku, orang tidak hanya menyembah
dewa-dewa serta nenek moyang. Ia merasa segan terhadap oknum dan benda-benda
yang terdapat dalam lingkungannya sendiri. Orang orang ini di segani karena
diangap mempunyai kekuatan khusus, kesaktian. Keuatan itu malah hadir
dimana-mana.
Kalau kita membandingkan corak umum agama suku dengan agama
Kristen sebagaiman dinyatanakan dalam kitab suci, kita melihat perbedaab pokok;
1. Dalam
agama suku tidak ada garis pemisa yang tajam antara pencipta dengan yang
diciptakan. Namun Allah yang maha tinggi itu berkenan mengikat perjanjian
dengan manusia penciptaanNya.
2. Dalam
agama suku, manusia secara azasi sanggup memenuhi kehendak dewa-dewa serta
nenek moyang asalkan diberi tahu tentangnya.
3. Agama
suku mempunyai hukum ilahi manusiawi yaitu adat yang berlaku secara mutlak.
Kehidupan manusia diatur seluruhnya olehnya, manusia tidak dapat lolos dari
adat. Manusia dalam agama suku adalah manusia yang terikat dalam seluruh bidang
kehidupannya sedangkan manusia dalam agama Kristen adalah manusia yang bebes
memilih jalannya
4. Dalam
agama suku pandangan orang terbatas dengan sukunya sendiri. Dan aturan hidup
yang berlaku dalam lingkungan sukunya merupakan satu-satunya aturan yang tepat.
5. Tidak
ada perbedaan mutlak antara yang baik dan yang jahat
6. Memandang
kemasa lampau sehingga bersifat konservatif, sedangkan agama Kristen tidak
mempunyai aturan yang sempurna yang diturunkan.
Kalau kita meninjau sejarah agama Kristen di indonesiamaupun
diluarnya, bahwa agama Kristen sering mempunyai bentuk yang lebih menyerupai
agama suku. Dalam agam Kristen ternyata agama suku hdup terus disebabkan oleh
pengaruh lingkungannya. Agama suku berpengaru terus dalam Gereja.
Agama-agama dari luar
datang ke indonesia
Sejak abad-abad pertama tarikh masehi, indonesia mempunyai
hubungan perdagangan dari wilayah-wilayah asialainnya. Barang dagangan yang dihasilkan indonesia
adalah rempah-rempah. Kota-kota pelabuhan sempat menjadi kaya raya berkat
perdagangan itu, pada abad-abad pertama sesudah masehi, pedagang-pedagang
Kristen dari mesir dan persia menetap di Arabia tenggara, di India barat dan
selatan dan srilangka. Jemaat-jemaat mereka di India selatan bertahan terus
sampai sekarang (Gereja Mar Thoma). Bukan idak mungkin bahwa dri sana
pedagang-pedagang Kristen datang ke Indonesia juga.
Ktita tahu juga bahwa dalam abad ke 14 dua kali seorang
misionaris dari barat singga di sumaterah, tetapi bagaimanapun juga kehadiran
orang-orang Kristen dari luar itu tidak meninggalkan bekas di Indonesia.
Sebaliknya agama-agama Hindu dan budha yang juga dibawah kemari melalui jalan
perdagangan berhasil menetap di Indonesia. Kerjaan sriwijaya menganut agam budha dan dikerajaan-kerajaan
jawa pada umumnya menganut agama hindu. Pada abad ke 13 suatu agama lain lagi
masuk di Indonesia melalui perdagangan, enam ratus tahun sebelumnya islam telah
merebut arabia, mesir dan persia dan dibawa ke pelabuhan-pelabuhan di India
Barat, islam mulai tersebar di sana sejak abad ke 9 dan berkuasa pada abad ke
13. Dari gujarat saudagar-saudagar yang
beragamamulai menyebarkan ke indonesia mulai dari ibu kota pelabuhan dan mengikuti jalur perdagangan.
Pada tahun 1292, kota perlak di sumatera Utara(aceh) sudah
beralih kepada agama Islam di susul oleh banyak kotalain didaerah pesisir
malaya, sumatera, jawa dan maluku. Ternate masuk islam lebih dahulu (± 1480)
dari pada sulawesi selatan (±1600), dijawa sejak (±1420), sekitar tahun 1550 pedalaman
jawa sudah mulai di islamkan.
Saudagar-saudagar dari luar datang keindonesia untuk
berdagang, tetapi mereka juga membawa serta agama mereka masing-masing : Hindu,
Budha, Kristen, Kristen dan Islam. Pada agam ke 15, agama Islam telah diterimah
oleh kebanyakan penduduk pantai indonesia.
Agama Kristen
orang-orang barat
Bangsa barat masuk ke indonesia pada abad ke 16 dan ke 17 yaitu orang portugis dan
orang belanda mereka menganut agama Kristen katolik. Dalam abad pertengahan
agama katolik bersifat hirarkis namun gereja mengusahakan keseragaman yang
sebesar mungkin antara lain dalam hal ibadah, pelayan sekramen dianggap lebih
penting dari pada pelayanan Firman khususnya babtisan, perlu mutlk demi
keselamatan. Beriman tidak pertama-tama berarti memahami dan menyambut apa yang
dikatankan dalam firman Tuhan tetapi
terutama taklhuk pada kekuasaan Gereja.
Perlu diperhatikan juga hubungan antara gereja dan negara.
Masyarakat Eropa dalam abad peretengahan masih mengakui kesatuan azazi seluruh
kehidupan. Dalam gereja abad pertengahan, pertarakan dipandang sebagai bentuk
kehidupan Kristen yang paling tinggi.
Itulah orang-orang barat yang pertama datang keindonesia.
Agar mencapainya, selama abad ke 16, mereka mereka melancarkan perang yang sengit
melawan pedagang-pedagang Asia. Beberapa tahun kemudian mereka mendirikan
benteng ternate (1522). Orang-orang portugis berhasil menakhlukkan lawan mereka
yang paling kuasa yaitu malaka. Antara tahun 1570-1600 kekuasaan ternate
semakin besar.
Orang-orang belanda ingin memperoleh monopoli dalam
perdagangan antara asia dan eropa. Wadah mereka ialah Verenigde Oostindische
Compagni (VOC). Orang-orang belanda adalah pedagang yang tidak mengutamakan
pekabaran Injil, mereka menjamin untuk mendukung gereja pada umumnya dan
pekabaran injil pada kususnya.
Dalam
ke 16 sampai ke 18orang-orang barat berusaha membangun Gereja di Indonesia.
Misi di Maluku sampai
tahun-tahun 1540-an
Tahun 1500 daerah maluku mengalami perubahan besar dibidang
politik dan agama, selanjutnya, nasib agama Kristen di indonesia timur akan
tergantung dari orang-orang portugis dengan sultan ternate, bubungan ini
ditentukan oleh 3 faktor : yaitu ekonomi, agama dan politik. Orang – orang
pertama yang masuk Kristen ditarik oleh seorang awam terjadi dipulau halmahera
tahun 1533 di daerah mamuya. Kepala mamuya yang memakai gelar kolano menyambut
baik nasehat orang asing itu. Setelah beberapa hari mereka diberi pelajaran
agama Kristen, lalu dibabtis setelah itu mereka pulag ke kampungnya.
Metode yang dipakai orang-orang portugis dalam menjalankan
misi dengan mengguakan kekuasaan politis yang merupakan faktor yang mendorong
mereka untuk menerima agama baru. Untuk orang-orang kristen yang baru itu masih
dianggap perlu pendidikan lebih lanjut, pendidikan itu tidak diberikan dalam
bahasa daerah yang tidak mungkin dipelajari dalam waktu yang singkat, tetapi
dalam bahasa campuran seperti melayu portugis.
Akan tetapi bulan madu misi dihalmahera tidak berlangsung
lama. Persaingan antara raja maluku dan raja-raja maluku. Namun pada tahun itu
juga datanglah seorang panglima lain antonio galvano (1536-1540) seorang yang
bijaksana dan selama pemerintahannya misi
mendapat angin kembali, beberapa tokoh masyarakat ternate sendiri masuk
Kristen karena tertarik pada beliau. Dan untuk sementara waktu dibuka suatu
sekelah diternate dimana anak-anak kristen indo-portugis dan anak-anak kristen
pribumi bersekolah disana.
Prajurit-prajurit paus
Dalam tahun 1540 dimaluku mengalami perubahan, masuk unsur
baru yaitu serikat yesus (orang-orang yesuit). Para misinaris baru khususnya
yesuit yang bekerja dimaluku membawa juga metode-metode yang baru tidak mau
lagi membaptis orang apa lagi sudah dipastikan bahwa pendidikan agama itu tidak
bisa diajukan. Orang-orang yesuit tidak segan menggunakan tangan kuat negara
yang mebantu misi.pada tahun 1540 orang yesuit memili maluku sebagai salah satu
wilayah kerja mereka. Mereka membawa semangat baru dan metode baru yang
mendobrak ideologi negara namun mereka sendiri tidak bebas dari suatu ideologi
gereja yang tidak segan memakai alat-alat negara demi melindungi da
menyelamatkan misi.
Pekerjaan Fransiskus
Xaverius di Maluku (1546-47)
Ia mempersiapkan diri menjadi seorang imam tanpa merasa
panggilan yang khusus. Ia menjadi seorang yang anggota pertama serikat yesus
(1534-1540), hanya kebetulan ia menjadi seorang misionaris. Ia beerja di Goa di
tengah-tengah orang portugis dan indi-portugis yang kehidupannya dibobrok
betul. Ia tidak hanya bergaul dengan Kristen tetapi juga epada muslim, kusus di
ambon dia membabtis satu orang dengan cepat sekali
Agama Kristen di Maluku utara (1547- akhir
abad ke-18)
Sesuda tahun 1547, usaha misi berkembang berkembang terus
sampai meliputi wilayah yang semakin luas di indonesia di ternate merupakan
pusat kegiatan misi, di situ menetap juga orang-orang yesuit. Pada saat-saat
portugis yang sedang rujuk ketiga penguasa islam yang lain yang ain memusuhi
orang-orang portugis dan menghambat misi serta anak buahnya. Sesudah masalah
itu, cara terbaik untuk menjalin persahabatan dengan orang-orang portugis adalah dengan menerimah agama mereka
Di tahun 1569 gereja kriten di maluku utara telah mencapai
puncak perkembangannya. Tidore juga merupakan pusat kekuasaan orag portugis di
maluku utara dan dengan demikian juga menjadi tempat kegiatan misi.
Telah muncul suatu kekuatan baru di maluku yaitu orang-orang
belanda. Mereka merebut ambon 1605 mendesak orang portugis dan spanyol ke
daerah barat. Mereka tidak mengabarkan injil, pemerintah VOC tidak merasa
terpanggil dalam menabarkan injil kepada orang-orang yang bukan kristen.
Akibatnya jemaad kristen yang ada di ternate dan dimaluku utara hanya merupakan
jemaad benteng, sejarah jemaad ini berlangsung sampai pada abad ke 18 sampai
pada saman kita. Jemaad-jemaad protestan ini berdiri disamping jemaat katolik
spanyol/ portugis di ternate dan tidore.kesadaran akan tugas penyiaran agama
kristen lebih hidup dan pada tahun 1666 kedua benteng terahir itu dikosongkan,
tamatlah riwayat misi katholik di maluku.
Gereja di Maluku
Selatan selama Masa portugis (1538-1605)
Dalam tahun-tahun setelah kunjungan Xaverius usaha pekabaran
injil terus berkembang. Kekristenan ambon pada waktu itu kurang sekali dapat
pemiliharaan dari luar. Xaverius sendiri hanya beberapa bulan saja lamanya
tinggal diambon, ia mengirim orang imam yesuit yang bekerja keras namun belum
dua tahun dia mati dan anggota kristen di ambon berdiri sendiri, hanya lima dan
enam tahun lamanya gereja di ambon dilayani seorang imam. Pada tahun 1569-1570
yang merupakan masa tentram, para misionaris membaptis 8.000 orang-orang dewasa
dan anak-anak. Orang-orang kristen juga di terima di beberapa kampung seram
selatan. Setelah itu oeristiwa-peristiwa datang mengganggu misi di ternate dan
kehidupan jemaad di ambon. Di pusat setelah 1560-an biasanya ada dua atau tiga orang misioner mereka
mendirikan agamaseperti yang sudah dilakukan oleh xavirius. Mereka mendidik dan
mengangkat tenaga-tenaga setempat para pater menjalankan satu sekolah,
anak-anak diberi pendidikan mengenai iman Kristen. Dalam waktu yang panjang
gereja di maluku berkembang dengan baik. Mereka mendidik, mengangkat tenaga
setempat. Di pusat para pater menjalankan sebuah sekolah dengan mengajarkan
agama dan mata pelajaran lainnya yang menjelaskan pokok-pokok iman Kristen dan
dasatitah
Gereja di Maluku
Selatan pada zaman VOC (1605-1800)
VOC adalah
badan perdagangan mereka ingin memperoleh monopoli hak tunggal untuk jual beli rempah-rempah. Orang
portugis telah gagal dalam usaha ini tapi VOC jauh lebih kuat. Kebijakan VOC
itu membawa akibat bagi penyiaran agama Kristen, VOC mendukung pemeliharaan
orang-orang kristen dan pekabaran injil di daerah yang dikuasainya yaitu ambon
lase dan banda.
Orang-orang kristen di ambon dan lease mempunyai agama yang
sama seperti agama orang portugis musu VOC, orang-orang kristen yang baru di
taklukkan itu, imam-imam khatolik diusir, tidak ada lagi ibadah dan sekolah
minggu. Setelah dua tahun ketika Ambon dikunjungi lagi oleh suatuarmada VOC,
orang-orang Kristen Ambon meminta juga agar sekolah dibuka kembali dan
dikabulkan, VOC sibuk mencari pendeta di tanah air dan yang pertama di ambon
mulai dari satu sampai enam orangmereka tinggal di pusat kota ambon,
orang-orang ambon tidak puas dengan sekolah yang satu yang telah didirikan
dipusat. Kekristen ambon dan lease berkembang jumlah orang-orang kristen
bertambah naik dari 16.000 pada akhir masa portugis menjadi 33.000. anggota
sidi mendapat kunjungan, khotbah dibacakan di kampung-kampung, doa malam
diadakan tiga kali sehari. Bahasa yang dipakai dalam semua tulisan adalah
bahasa melayu. Hanya satu orang yang
memihak pada bahasa ambon asli yaitu heurnius
(1633-1638), tetapi heurniu kena racun dan terpaksa meninggalkan pulau.
Orang memilih bahasa melayu karena dengan menghadapi
orang-orang ambo mereka menggunakan metode tertentu, sama sebelmnya dengan
menggunakan metode menghafal. Pendekatan tadi menjadi nyata juga dalam sikap
agama dan agama asli. Orang-orang belanda di ambon tidak berusahauntuk
sungguh-sungguh mempelajari agama dan kebudayaan suku, pemerintah VOC membantu
membasmi kekafiran. Kritik yang paling mendalam ialah bahwa orang-orang ambon
tidak mengalami perubahan hati, dan
tidak sungguh-sunggu dalam penghayatan iman Kristen.
Setelah tahun 1780 kekuasaan VOC merosot dengan cepat, dan
daerah ikut menderita terutama gereja di daerah-daera pinggiran, jumlah
pendetaikut berkurang, dan tidak ada lagi pelayan sekramen, dan dengan
kedatangan Joseph Kam, mulailah zaman baru di maluku.
Gereja di Sulawesi
Utara dan Sangir-Talaud (1536-1800)
Pulau ini tampaknya mempunya hubungan dengan dunia luar dari pada daratan Minahasadan dan organisasi
politisnya sudah berupa keajaan.pater Magelhaes di sambut dengan gembira di
Manado dan menggunakan waktu dua minggu mengajar mereka tentang pokok-pokok
kekristenan dan juga mengunjungi dua daerah yaitu kadipan dengan membabtis
2.000 orang selama pengajaran 8 hari, setelah itu ia kembali ke ternate, untuk
menunjukkan orang Kristen yang telah dibabtis berkelompok itu perlu dibimbing
sungguh-sungguh bukan selama dua puluh bulan melainkan tiga puluh tahun lamanya
untuk dikatakn sebagai jemaat yang mantap. Raja bolaang mangondow raja
gorontalo dan raja banggai semua meminta supaya seorang misinaris datang berkunjung
kedaerah mereka.
Setelah orang-orang spanyol merebut kembai maluku utara
(1606) minat orang Kristen tumbu lagi,
namun dirintangi oleh kematian-kematian pekerjanya. Patra misionaris yang
kemudian mulai lagi menyebarkan Injil (1619) mengalihkan perhatian daerah
pegunungan. Lima belas tahun kemudian
(1644) terjadi lagi peristiwa yang serupa. Orang-orang kompeni mengusir
orang-orang spanyol dari sulawesi utara, orang-orang katholik di jadikan
Protestan.
Orang-orang belanda membutuhkan minahasa sebagai gudang
perbekalan sedangkan siau terdapat cengkeh dan membangun benteng dimanado
(1666), tahun 1667 mereka mengadakan perjanjian dengan raja siau. Pendeta kedua
yang datang ke manado dan sangirmemberi laporan (1675) dua minggu berkhotbah
enam kali meninjau sekolah minggu. Sejak tahun 1789, tidak ada lagi seorang
pendeta datang berkunjung, jemaat-jemaat terlantar sampai tahun 1817
Gereja di Nusa Tengga
Timur (1556-permulaan abad ke-19)
Mulai dengan
berita tentang tahun 1556, pater Antonio taveira membaptis 5. 000 orang di
timor yaitu Flores, Larantuka dan sekitarnya. Taveira adalah seorang anggota
ordo dominikan. Daerah NTT merupakan wilayah kerja ordo. Untuk menjamin
kehiduoan jemaad ini orang-orang kristen baru dan pater mengambil dua tindakan
dengan mengirim dua orang ke malaka agar mendapat pendidikan di sana, dan
ketika pulang mereka menjadi guru di tanah air.
Menjelang akhir abad ke 16 orang-orang yang di bapsstis
sudah berjumlah sekitar 25.000 jiwa. Disebelah Timur terdapat perkampungan
orang-orang pribumi katolik kira-kira 1.000 orang. Ada suatu sekolah,
gedung-gedung Gereja yang sederhana
Kedua pemuda yang diutus ke malaka itu murtad setelah pulang
ke kampung mereka. Orang-orang Kristen di solor terbagi atas dua kelompok yang
sudah dari jaman dahulu saling memusuhi, misi tak dapat dan terpukul
juga.jumlah orang-orang Kristen telah berkurang. Dan orang belanda datang
dengan merebut benteng solor (1613). Orang orang VOC dan portugis memperebut
wilayah NTT. Orang-orang merebut benteng di solor pada tahun 1613, mereka
mengirim dua orang pendeta bagi gereja
protestan, mereka berhasil memelihara rang-orang Kristen sehingga tetap katolik
berartianti belanda. Pada tahun 1670 di kirim lagi seorang pendeta untuk
menetap di Kupang namun ia meninggal dan diganti namun juga meninggaldalam
waktu yang singkat. Tahun-tahunitu juga agama
kristen protestan mulai masuk
kedalam penduduk pulau timor, tahun1670 an satu dua raja meminta untuk dibaptis
atau juga pengikut mereka.
Tahun ke 18 jumlah
orang-orang Krieten di Timur mulai dikuasai oleh belanda mulai dari 48 orang
tahun 1719, sampai 460 sepuluh tahun kemudian dan 1300 orang pada tahun1753. Tahun1749 orang
portugis hendak menyerang kupang dengan tentara yang kuat, orang orang belanda dan
sekutu mereka terkejut. Agama Kristen dibawa ke NTT mulai tanhun1556,
perluasannya terjalin dengan sejarah ekonomi dan politis daerah.
Gerejadi indonesia
Barat, Khusus di Batavia (Jakarta) (1550-1800)
Pulau jawa dalam abad ke 16 sudah di islamkan, hubungan
politis membawa hubungan agama. Beberapa tenaga misionaris dikirim ke panurukan
dalambangan 1569-1599, mereka berhasil membaptis sejumlah orang termasuk
beberapa anggota keluarga raja. Tahun 1690
seorang misionaris bekerja di pedalaman kalimantan selatan dan berhasil
membaptis beberapa ribu orang, ia mati terbunuh dan hasil-hasil pekerjaannya
hilang tidak meninggalka bekas. Di sulawesi selatan dua raja berkenalan dengan
agama kristen melalui kesaksian seorang pedagang portugis dan mereka ingin di
baptis. Orang - orang portugis hanya
memusatkan perhatian mereka kepada indonesia bagian timur yang dari sudut
ekonomis lebih penting bagi mereka.
Ambon merupakan jajahan VOC yang pertama di nusantara,
disitu terdapat gereja protestan pertama yang terbesar di indonesia, VOC
membutuhkan pangkalan yang besar dan mereka merebut kota jakarta dijadikan
pusat kekuasaan mereka di indonesia. Mula-mila orang kristen di beri
pemeliharaan rohani yang lazim di kapal-kapal dan di benteng-benteng, kabaktian
dalam bahasa melayu, perayaan perjamuan kudus dan pembentukan majelis gereja.
Pertama kali perjamuan kudus dirayakan di asia menurut peraturan protestan.
Gereja itu berkembang terus dengan pesat, sama seperti kotanya jumlah anggota
bertambah terus. Tahun 1700 boleh ditaksir ada bangsa 15.000 orang kristen,
terdapat jumlah sekolah dengan kira-kira 5.000 orang murid.
Pendeta-pendeta yang melayani di batavia pada zaman VOC
biasanya berkebangsaan belanda. Yang satunya adalah ialah cornelis senen (1600-1661). Ia seorang banda,
ia dibawa ke jakarta dan menjadi guru tetapi dia seorang yang bijaksana dan
saleh. Dalam jemaat-jemaat melayu portugis ia meninjau sekolah-sekolah,
mendidik dan menguji guru dan memeriksa calon-calon baptis, berkhotbah dan
memberi katekisasi. Master cornelis dan bekerja keras serta bersabar tanpa
memprotes. Ia sangat dihormati oleh semua pihak termasuk belanda. Di indonesia
pada zaman VOC tidak di adakan rapat klasis atau sinode, alasannya pemerintah
tidak suka kalautoko-toko gereja berkumpul dan berunding, karena nantinya
gereja akan mengatur diri sendiri. Selama masa VOC hal-hal gerejani, juga
menyangkut jemaad-jemaat lain diurus oleh pemerintah dan majelis jemaat. Dengan
meluasnya perdagangan dan kekuasaan VOC maka dibentuk juga jemaat-jemaat di tempat-tempat
lain: malak, makasar, ujung pandang, padang semarang dan lain-lain. Selama abad
ke 17 ada sejumlah orang yang masuk Kristen. Jemaat-jemaat di indonesia barat
menjelang abad ke 18 kekayaan VOC merosot, akibat merosotnya VOC, karna hilang
tingkat dari negara eropa. Jemaat ini hanya bisa mempertahankan diri dab
bertumbu kembali karena dalam abat kesembilan belas kekuasaan belanda di
indonesia mengalami perkembangan baru.
Menjadi Kristen
Misi dan zaman gereja VOC sebagai satu kesatuan. Bagi orang
indonesia antara protestan dan katolik merupakan masalah orang asing yang tidak
menyangkut mereka, polanya terdapat kesaan yang menonjol. Sepanjang zaman yang
kita bahas adalah orang-orang indonesia yang masuk kristen yang datang secara
berkelompok mereka yang datang dari agama suku ada pula yang masuk perorangan.
Mereka datang dari agama islam dan mereka tinggal di kota batavia. Mengapa
orang-orang itu masuk Kristen? apa Karena sudah sadar akan kepercayaan serta
adat mereka yang lama? Kesimpulannya adalah
ada alasan-alasan lainyang menggerakkan hati orang sehingga mereka ingin
memeluk agama kristen. Selain dari pada itu ada karena politis, orang barat
mempunyai wibawa yang cukup tinggi, tertarik dari kepribadian sang pekabar
injil. Alama yang sah untuk masuk agama kristen hanyalah satu; adanyaiktiar
untuk berpaling radikan secara radikal kepada Allah yang mulai dikenal dalam
tokoh Kristus Juruselamat.
Di Indonesia karangan-karangan itu hanya bisa berguna
sekiranya disalin ke dalam bahasa setempat dan diterjemahkan kedalam lingkungan
hidup setempat. Para penginjil sering kali bukannya bukannya menolak alasan itu
atau berusaha membelokkannya, melainnka mereka justru memperkuat kecenderungan
itu dengan menyatakan bahwa agama kristen terang-terangan adalah agama yang
benar karena Allah telah memberi kemenagan-kemenangan kepada orang-orang
kristen. Kebanyakan orang indonesia
dilayani oleh guru-guru atau penghibur orang sakit yang tidak mendapat
pendidikan yang memadai. Persoalan ini hanya mampu sipecahkan dengan mendidik
tenaga pribumi yang trampil dan memang ada usaha di bagian itu antara lain dari
pihak pendeta-pendeta Danckaest dan heurnius tahun 1620 an dan 1630 an.
Usaha-usaha itu memberi hasil baik, tetapi tidak dilakukan dengan cukup luas
dan sistematis.
Orang-orang kristen baru mudah sekali jatuh kambali kedalam
agama kafir, entah mereka tetap kristen nominal, entah mereka benar-benar
murtad. Pekerja-pekerja misi atau pendeta-pendeta VOC sudah biasa memberikan
penilaian yang negatif kepada terhadap orang kristen indonesia. Itu baru
dilakukan oleh sending dan misi pada abad ke 19.
Jemaat Kristens
Di jemaat-jemaat luar pusat ibadah di adakan dalam bahasa
melayu saja, di jemaat-jemaat pusat diadakan secara terpisah-pisah bagi
beberapa kelompok tersendiri dimana orang-orang memakai tiga bahasa.
Masing-masing kelompok dilayani dalam bahasa sendiri dan sedapat mungkin oleh
imam atau pendetanya. Sebab dalam bahasa itu iman kristen dapat diperkenalkan
kepada orang-orang indonesia dan mereka dapat dipelihara didalamnya.
Gereja di Belanda telah mengambil keputusan bahwa
nyanyian-nyanyian yang boleh dipakai dalam kebaktian resmi hanyalah
mazmur-mazmur daud dan itu yang dipakai di indonesia. Dalam missi saat itu
penerjemahan Alkitab tidak dilakukan, mereka tidak menerjemahkannya kedalam
salah satu bahasa daerah di Indonesia, kecuali heurnius yang mnyalin sejumlah
bagian pokok dari Alkitab kedalam bahasa Lease (Saparua), pada tahun 1668
terbitlah perjanjian baru lengkap dalam bahasa melayu (Brouwerius), kita tidak
tahu sampai berapa jauh terjemahan-terjemahan tersebut digunakan dalam
jemaat-jemaat berbahasa Melayu, yang pasti bbahwa orang belum puas dan
terjemahan-terjemahan itu tidak diterimah secara resmi oleh gereja. Leijdecker
memakai bahasamelayu yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Pemerintah VOC mengambil keputusan bahwa terjemahan
leijdecker harus di terbitkan, alkitab itu dipakai di jemaat-jemaat berbahasa
Melayu. VOC mewajibkan jemaat Kristen untuk mengadakan ibadat doa malam
dipimpin oleh guru setempat atau seorang penhibur orang sakit. Yang berhak
melayani sekramen-sekramen pada umumnya adalah pendeta. Gereja protestan secara
resmi tidak berada di bawah pemerintah dan juga tidak mengenal hirarki. Dan VOC
tidak berlambat-lambat menuntut hak-hak lebih pelayanan khusus. Sesuai dengan
struktur hirarkis dalam organisasi Gereja kesaksian keluar (pekabaran Injil,
apostolat).
Anggota Jemaat dan
Masyarakat
Iman kristen itu hidup berdampingan dengan kepercayaan kafir
dan diresapi olehnya. Terdapat banyak tuduhan-tuduhan mengenai penyembahan
kepada hantu-hantu dan roh-roh nenek moyang. Agama kristen di pandang sebagai
suatu sistem larangan pemerintahan, akan tetapi kita mendengar pula bahwa
mereka menggunakan sisah-sisah roti dan anggur, adan air baptis sebagai air
obat. Ddari situ kita melihat kesimpulan
bagi orang Kristen Indoesia makna perjamuan itudipahami dengan cara yang serupa
dalam agama suku. Pengaruh Injil di kalangan mereka disaingi oleh pengaru adat
yang lama dan juga teladan buruk yang perlihatkan oleh orang-orang Eropa
Nampak juga engaru injil dalam kehidupan orang-orang Kristen
Indonesia zaman itu, banyak diantaranya setia kepeda agamanya meskipun ada
penganiayayaan. Orang-orang Kristen pada zaman itu hidup terpisa daro
orng-orang yang bukan Kristen, bahkan hidup terpisah dari teman-teman sebangsa
mereka, gereja tidak berbuat apa-apa tentang korupsi yang merejalela di
kalangan orang belanda yang menjadi anggotanya. Hasil yang mengecewakan adalah
tenaga pekabaran Injil kurang sekali, tenaga indonesia kurang dididik, Injil
dibawa dalam bahasa asing, pemimpin jemaad kurang memimpin Agama dan lain
sebagainya.
Perubahan-Perubahan di
Indonesia dan di Eropa
Pada permulaan abad ke 19, keadaan indonesia sudah engalami
perubahan yang cukup besar, pertama-tama dibidang agama, politis, dan wilaya
yang diperintakan oleh Belanda semakin bertambah, dan boleh dikatakan tahun
1910 an tidak ada lagi bangsa indonesia
yang memepertahankan kemerdekaan kecuali secara nominal. Peristiwa yang
paling penting adalah perang di ponegoro jawa tengah (1825-1830) dan perang ace
(1873-1903) tetapi disana-sini terjadi pertempuran. Agama Kristen oleh orang
banyak dipandang sebagai agama orang eropa agama belanda sehingga sikap mereka
terhadap Injil sering ikut ditentukan oleh sikap mereka terhadap orang-orang
belanda sendiri. Belanda mulai mengurus daerah yang dikuasainya secara
langsung. Perubaha-perubahan ini juga mempengaruhi hak-ihkwal agama kristen dan
penyiarannya di indonesia. Orang-orang Eropa tidak sama dengan nenek moyang
mereka pada abad ke 16 dan 17. Beberapa perubahan yaintu mengenai pencerahan
merupakan aliran yang mengatakan manusia harus berani berdiri sendiri.
Pencerahan juga mempengaruhi juga sikap orang-orang Eropa terhadap bangsa lain.
Lain
lagi aliran Pietisme (di daratan Eropa) atau Revival (di negeri-negeri yang
berbahasa inggris). Cita-citanya adalah supaya supaya orang yang menamakan
dirinya Kristen itu benar-benar menghayati imannya, menyesal karena
dosa-dosanya, merasakan kasih yang hangat kepada Kristus yang telah meyerahkan
diri-Nya demi keselamatan mereka. Namun penganut-penganut aliran itu kurang
menghargai lembaga gereja. Kedua alirab ini berpengaru besar dalam sejarah
gereja di indonesia, pengaru pencerahan mengenai kebijakan
penguasaan-penguasaan belanda di indonesia, sedangkan pietisme mengenai
pekabaran Injil terhadap agama, adat kebudayaan, dan bahasa pribumi dalam
penyajian firman Tuhan kepada orang bukan Kristen.
Gereja Protestan di
Hindia Belanda (Indonesia)
Pada tahun 1814 Joseph Kam bersama dua rekannya tiba di
indonesia. Pendeta pertama yang diutus dari negeri belanda ke Indonesia untuk
melayani orang-orang Kristen disana. GPI meliputi orang-orang Kristen
berkbangsaan Eropa dan orang-orang Kristen di indonesia yang tinggal di maluku.
Pemerintah portugis dan VOC mengaku sebagai pemerintah Kristen. Kepentingan
rakyat indonesia harus dimajukan dalam segala hal. Dan negara tidak campur
tangan dalam soal Agama bahkan bersifat netral. Pada permulaan abad ke 19
keadaan-keadaan jemaat kristen di Indonesia tidak baik, pendeta hanya tinggal
beberapa orang saja, daerah-daerah di luar pusat tidak dikunjungi lagi. Hanya
dimaluku yang mempenyai akar-akar Kristen yang kuat.
Setelah orang inggris mengembalikan jajahannya di indonesia
kepada nederland (1816), barulah keadaan Gereja diatur secara baru, dilakukan
oleh raja baru William I, menggabungkan jemaat gereja menjadi satu badan yang
diberikan nama Gereja Protestan di hindi Belanda (Indonesia) dengan aturan yang
berlaku yaitu GPI dipimpin oleh suatu pengurus yang diangkat oleh gubernur
jendral yang berkedudukan di batavia. Ugas gereja ialah memelihar kepentingan
agam Kristen pada umumnya dan Protestan pada khususnya. Hubungan dengan gereja
di nederland akan berlangsung melalui sekelompok pendeta disitu yang antar lain
bertugas menguji dan menguhkan pendeta-pendeta lain.
Akhir tugas gereja menurut peraturan GPI, disamping
memperkuat kedudukan belanda di indonesia ialah memupuk pengetahuan religius
dan memajukan kesusilaan rakyat, orang-orang yang menyusun peraturan GPI seakan
tidak mengetahui bahwa dalam gereja itu terdapat orang-orang indonesia.
Lembaga-Lembaga
pekabaran Injil
Di Nederland minat dan kepada penyiaran iman kristen bangkit
kembali dalam abad ke 18. Ada kelompok-kelompok orang yang dengan penuh
perhatian mengikuti usaha-usah utusan-utusan dari Herrnhut melalui brita-brita yang
tercetak dari pihak mereka. Timbul juga gagasan-gagasan baru mengenai metode p.
I Beberapa orang akan menyusun kerangka-kerangka itu.
Beberapa contoh lembaga-lembaga p. I yaitu1792 Baptist
Missionary Society, 1795 london missionary society, mereka tahun 1779
mendirikan Nederlands zenndelinggeenootschaps (NZG) dan lain-lain. Di Indonesia
sendiri orang-orang kristen yang tidak puas dengan GPI membentuk lembaga
Alkitab (1814), serta lembaga-lembaga p. I di batavia (1815) dan
ditempat-tempat lain. Lembaga-lembaga ini
didirikan dan diurus oleh anggota jemaat yang sedikit banyak terpengaruh
oleh cita-cita pietisme dan revial.
Dengan demikian kita sampai kepada pokok berikutnya yakni hubungan antara
zending dengan pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah mempersulit atau melarang
p. I di daerah-daerah tertentu. Dalam hal ini pemerintah mengikuti pedoman yang
sudah berlaku pada zaman VOC yaitu kepentingan diri sendiri, namun mendukung
pekerjaan zending kususnya didaerah yang beragama suku.
Sikap zending tidak dapat dirumuskan dengan mudah oleh
pemerintah karena zending bersifat negative. Bagi orang beanda kerajaan Allah
tetap tidak sama dengan kerajaan belanda,dan mereka menyadari bahwa mereka bekerja
untuk memperluas pekerjaan Allah, bukan demi keperluasan kerajaan belanda,
namun kadang-kadan keperluasan kerajaan belanda itu perlu demi keperluasan
kerejaan Allah.
Gereja Protestan di
Maluku (1800-1864)
Tahun 1790-1820, Ambon dan kepulauan Maluku berada dalam
keadaan yang tidak menentu. Segalah sesuatu diatur dari atas. Tahun 1780 masi
terdapat 3 orang pendeta di ambon. Di saparua pendeta masi bertahan sampai
tahun 1801. Pada tahun 1813, pemerintah Inggris mendatangkan seorang pendeta
dari India yaitu Jabez carey, Joseph Kam berasal dari keluarga pietis dari
belanda,
Orang-orang Kristen di ambon juga ingin tetap berpegang pada
Agama Kristen. Kekristenan di Ambon dipelihara oleh guru-guru bukan pendeta.
Dengan berkhotbah dari apa yang mereka susun sendiri. Bagi mereka tidak banyak
yang berubah dengan perginya pendeta yang terahir, sebaliknya kekosongan
pendeta itu hanya menandaskan kekurangan dan kelemahan selama zaman misi dan
Gereja Gerefoormeerd.
Sekitar tahun 1800 di Maluku dan dunia luar terputus untuk
sementara waktu, di maluku tengah kehidupan gerejani berlangsung terus dibawah
pimpinan para guru, menurut corang yang berlaku sejak abad ke 17. Di
wilayh-wilayah luar jemaad-jemaad semakin lemah atau malah menghilang, mulai
tahun 1813 tenaga-tenaga baru membawa kekristenan gaya baru ke Maluku, unsur
baru ini mulai mengerjakan pembaharuan dalam jemaat-jemaat, pemerintah berusaha
mengekangnya namun pembaharuan itu berjalan terus.
Gereja di Minahasa
sampai penyerahannya kepada GPI (1800-1880)
Tanah minahasa sangat subur dan penduduknya dipaksa untuk
menghasilkan barang-barang bagi pemasaran dunia. Dalam abad ke 16 sejumlah
orang-orang minahasan masuk Kristen. Josept Kam yang membuka jalan bagi zending
baru, dialah yang menjadi perintis usaha p.I dalam arti yang sebenarnya.ia
membuka sejumlah sekolah p.I, mengadakan perjalanan ke pedalaman, dan mengajak
NZG agar mengirim utusan-utusan zending.
Masih tinggal sedikit bagaimana sikap parah utusan Injil
terhadap Agam dan kebudayaan orang-orang minahasa, sikap mereka pada umumnya
adalah negative yaitu:
Menentukan
sikap dalam bahasa
Mengenai
agama suku (kafir adalah liar)
Kebudayaan
suku,
Sikap pemeintahan terhadap pekerjaan zending diminahasa
tidak tetap, sampai-sampai ada orang Kristen yang dipukul karena telah pergi ke
gereja pada hari minggu. Selama abad ke 19 manado tetap meupakan daerah GPI,
sedangkan minahasa diberikan kepada NZG unuk digarap. Orang kristen bertambah
dari berapa ribu menjadi 80. 000 orang. Mereka sekarang dimasukkan kedalam
kerangkah organisasi GPI. Dengan demikian orang-orang Kristen minahasa sendiri
tidak begitu banyak mengalami perubahan.
Gereja di Timor dan
sekitarnya sampai NZG menarik diri (1800-1860)
Agama kristen belum berakar kuat dalam buni NTT, walaupun
sudah kenal sejak dua setenga abad.
Jumlahnya hampir 10 ribu orang. Pemerintah Hindi belanda yang baru merasa
bertanggung jawab atas jemaatKristen yang merupakan warisan dari zaman VOC,
salah seorang zendeling yang telah di utus NZG ke indonesia disita dan
dijadikan pegawai dalam gereja negara. Pada tahun 1819 pemerintah mengangkat R.
Le Bruiji pekabar injil di maluku menjadi penjabat pendeta di kupang. Bruijn
mengikuti Kam dan Hellendoorn membangun jemaat yang sudahada berkhotbah,
katekisasi dan mendirikan sekolah serta bacaan-bacaan kristen. Secara kusus
bruijn menterjemahkan semua nyanyian
Injil yang telah diterbitkan oleh NZG di Belanda, di ubahnya dalam
bahasa melayu yang sederhana, ia mendirikan lembaga p.I pembantu. Dalam semua usaha
ini bruijn didukung oleh pemerintahan setempat. Ia meninggal setelah utusan-utusan
baru mulai bekerja, ia digantikan oleh Terlinder dan Terlinderpun meninggal
sesudah tiga tahun saja
Para zending yang di pulau Rote dihalau oleh angin taufan.
Akhirnya NZG tidak lagi mau membuang tenaga dan uang untuk timor, setelah tahun
1850 tidak ada lagi tenaga baru dikirim. Dalam kehidupan jemaat, tradisi jaman
VOC belum bisa diganti dengan pola zending baru, oleh karen itu NZG menarik
diri dari Timor dan lapangan ini kembali menjadi daerah GPI semata.
Pekabaran Injil di
Kalimantan sampai perang Hidayat (1836-1859)
Di daerah pesisir tinggal orang-orang melayu
dengan menganut agama Islam, sejak abad ke 18 sudah dipengaru oleh Belanda.
Daerah pedalaman dikuasai oleh orang-orang Dajak, mereka hidup terpencil dan
berpegangan sama agama sukunya, agama kristen bagi mereka masih baru sama
sekali.
Pendeta Medhurst, yang bekerja dikalangan orang-orang
tionghoa di Batavia. Dari 1834-1857, RMG dan lembaga lain mengutus 20 orang ke
Kalimantan, akan tetapi merekamenemukan kesulitan dari pihak pemerintah hindia
belanda merasa kuatir kalau mereka diperalat untuk pemerintahnya untuk
merongrong kekuasaan Belanda di Indonesia. Salah seorang diantara mereka
menulis orang kuatir jangan-jangan orang melayu. Barnstein pada Tahun 1835
dapat pergi ke Kalimantan dan memili Banjarmasin sebagai pangkalan P. I. Tahun
1839-1850. Dalam tahun-tahun kemudian didirikan pos-pos P.I
Zendeling
berusaha untuk mempengaruhi orang-orang dayak dengan mendirikan sekolah dan
mengadakan kebaktian menggunakan bahasa dayak. Namun pendekatan ini kurang
berhasil, oleh karena itu para zendeling disamping tetap menempuh cara mereka
yang pertama yaitu mendirikan suatu masyarakat baru. Mereka tidak dipaksa masuk
Kristen namun tetap mengikuti ibadah. Pada tahun 1859 barulah berjumlah 261
orang.
Kepara zendeling menetap di pedalaman yang masih beragama
suku, dengan susah payah dan dengan pengorbanan jiwa yang sangat besar, mereka
berhasil membabtis beberapa ratus orang dayak, hasil itu dicapai dengan
menggunakan beberapa metode, akan tetapi perang hidayat pada tahun 1859 merusak
hasil pekerjaan mereka dan memaksa mereka untuk memulai pekerjaannya kembali
hampir dari titik permulaan.
Jemaat-Jemaat sampai
saat pimpinan diambil ali oleh sending (tahun-tahun 1830-an sampai 1860-an)
Abad ke 18, sebagian besar pulau jawa dikuasai oleh
orang-orang belanda secara langsung. Pada abad ke 16 pulau jawa sudah di
islamkan, agam hindu masih bertahan pada tahun1770, namun mereka di usir oleh
kompeni, orang-orang jawa terpengaruh dengan kebatinan, mereka memandan ibadah
sebagai ngelmu atau ilmu baru, yaitu
suatu pengetahuan rahasia yang memberi kekuatan batin yang memilikinya. Pada
tahun 1815 penganut agama kristen hanya terdapat dalam golongan orang-yang
bukan jawa, oran belanda serta keturunan mereka. Orang kristen ini terdapat di
beberapa kota besar yaitu surabaya semarang dan batavia.
Dijawa
timur P.I dimulai dari seorang jerman yng telah merantau keindonesia yaitu
pendeta emde (1774-1859) adalah seorang pietis, ia menetap di surabaya. Dijawa
timurjuga telah muncul pusat penyiaran Agama Kristen yang kedua yaitu ngoro
yang dipimpin oleh coolen(1775-1873),tidak ada paksaan dalam beragama, coolen
menyuruh orang membangun mesjid. Pada tahun 1858 jellesma meninggal, pengaruh
zending dalam lingkungan kekristenan jawa bertambah besar. Injil datang ke jawa
tengah melalui dua jalan yang pertama
melalui usaha orang putih, dan yang kedua adalah penyiaran ilmu Kristen oleh
penduduk ngoro dan mojowarno.
Jemaat-jemaat Kristen ini pada umumnya mempunyai corak jawa
yang nyata. Badan-badan zending yang sejak tahun 1850 lama kelamaan mulai
bertindak sebagai wali jemaat-jemaat Kristen di Jawa itu, berusaha untuk
mengurangi unsur kejawen.
Gereja Khatolik Roma
sampai masuknya serikat Yesus (1808-1859)
Dalam abad ke 17 dan ke 18,secara resmi tidak ada gereja
khatolik Roma di wilaya VOC. VOC tidak menerima kehadiran Rohaniawan khatolik
Roma di daerah kekuasaannya, stelah tahun 1650 sikap pemerintahan VOC menjadi
lebih lunak. Tahun 1750-1815 merupakan zaman kemunduran bagi Gereja khatolik
roma, semangat P.I berkurang dann Misi mendapatkan pukulan yang hebat dan untuk
sementar waktu (1773-1814) serikat Yesus di bubarkan. Setelah VOC bubar (1799),
kebebasan itu juga berlaku juga di Indonesia. Dua orang imam praja (sekulir da,
bukan anggota ordo) pada tahun 1808 kedua imam itu tiba di batavia satu orang
tinggal di sana dan yang satunya lagi di semarang. Dua tahun kemudia sura baya
dikirim pastor dari Paus, pastor Nellisen dengan gelar Praefectus Apostolicus
(kepala misi yang diberi wewenang oleh
takhta rasuli yaitu paus sendiri).
Kedua pastor itu dan rekan-rekannya bekerja di tengah
orang-orang khatolik dari golongan eropa asli dan indo eropa. Kita mendapat
kesan corak kerohanian pastor dapat dicicipi dari pokok khotbahnya waktu
mentabiskan gereja di surabaya.
Tinjauan umum atas
periode 1800-1860: A para zendeling
Orang-orang Kristen berkebangsaan indonesia pada masa
1800-1860 ini terdapat baik didalam lingkungan GPI maupun di lingkungannya.
Yang paling banyak adalah maluku, timor, kemudian juga minahasa. Tenaga-tenaga
yang diutus oleh lembaga-lembaga zending di eropa pada umumnya berasal dari
kalangan pietis. Pada zaman VOC usaha pekabaran Injil terikat pada suatu
lembaga gereja yang tertentu.
Jumlah utusan zending pada masa 1815-1860 bekerja dalam
jemaat-jemaat GPI dan di lapangan p. I tidaklah seberapa besar. Dalam
pekerjaannya mereka tidak mau mengikat diri kepada ajaran dankita mendapat
kesan bahwa tidak ada metode yang tegas. Para
zending menggunakan bahasa melayu dalam gereja dan sekolah karena di
daerah itu terdapat berbagai bahasa suku. Para zending mementingkan keputusan
orang perorangan untuk menerimah Kristus sebagai juruselamat yang dibahas
disini ialah individualisme artinya dalam mengusahakan supaya orang bertobat
dan supaya taraf hidup orang ditingkatkan.
Pemberitaan Firman oleh para zendeling pada zaman itu
bersifat Kristosentris yang menjadi pusat. Perbandingan dengan cara kerja VOC
cukup sama misalnya sikap negatif terhadap
kebudayaan pribumi, kecenderungan untuk menjadikan keadaan dalam gereja
dan masyarakat. Ada pula perbedaannya bahwa zending pada abad ke 19 jauh lebih
banyak memberi perhatian kepada penterjemahan Alkitab kedalam bahasa daerah.
Dalam beberapa hal zending abad ke 19 memang maju atas zending pada zaman VOC
Tinjauan umum atas
periode 1800-1860 : B. Orang-orang Kristen Indonesia
Jumlah orang-orang Kristen berkebangsaan Indonesia bertambah
besar karena usaha zending di minahasa membawa hasil yang baik. Di kalimantan
hanya beberapa ratus orang yang beralih dari kepada agama Kristen, di jawa timur
dan tengah ada lebih banyak. Itu hasil gerakan dikalangan orang jawa. Bahkan
ada juga yang masukkarena tertarik kepada pribadi seseorang pekabar injil, dan
lain alasan. Tetapi ada juga orang yang masuk karena alasan yang sah yaitu
karena tertarik pada pribadi Kristus yang didalamnya mereka melihat Allah
secara utuh. Persiapan untukbaptis rata-rata dijalankan dengan kesungguhan yang
lebih besar dari zaman VOC. Bahan-bahan katekisasi yang dipakai dalam persiapan
itu berbeda-beda. Ada yang menggunakan karangan-karangan yang baru.
Dalam ibadatnya tetap mengikuti pola barat, mulailah
diadakan nyanyian baru dalam bahasa daerah atau dalam bahasa melayu yang
sederhana. Para peserta lebih banyak menghayati isinya dalam arti mereka
memberikan juga sumbangan. Dalam hal organisasi gereja orang indonesia kurang
diberi kesempatan untuk memainkan peranan, hanya para Guru serta penolonglah
yang dapat dipandang sebagai tokoh-tokoh pemimpin pribumi. Agama suku yang lama
masi berpengaruh terus di luar dan di dalam lingkungan agama kristen.
Periode 1800-1860 ini merupakan babak permulaan suatu zaman
baru, yakni babak zending baru mengikat pinggang dan mulai bekerja. Dalam babak
berikutnya (1860-1930), kegiatan zending akan berkembang terus, baik dari sudut
jumlah tenagan maupun dari sudut metode kerjanya.
Ragi
carita
SGI
1 (1500-1860) Dr. Th. Van den End