Sabtu, 13 Desember 2014

RAGI CARITA

RINGKASAN
RAGI CARITA



            Oleh :
Nama               : Marfiyanti Saingo
Mata Kuliah   : Sejara Gereja di Indonesia
Dosen              : Andreas. L



SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERPADU-PESAT
SALATIGA
                                                          2014

RAGI CARITA
Sejarah gereja adalah sejarah panggilan Tuhan dan sejarah jawaban yang diberikan manusia kepada panggilan itu. Bentuk panggilan turut dipengaruhi oleh latar belakang sang sendeling.oleh kebudayaan, hubungan politik negeri  asalnya, dan daerah dimana ia mengabarkan Injil. Corak jawaban yang diberikan oleh mereka yang diInjili, pertama-tama ditentukan oleh panggilan yang telah disampaikan kepada mereka. Apa tujuan pemberitaan Firman, membawah pembaharuan untuk manusia beserta seluruh dunianya ataupun menyelamatkan jiwa manusia dari dalam dunia, bentuk pekabaran injil tak bisa mempengaruhi corak jawaban yang akan diberikan kelak oleh mereka yang menerimah Firman akibatnya.
Di wilayah indonesia terdapat sejumlah besar Gereja-gereja. Masing-masing gereja itu mempunyai sejarah mesing-masing dengan berbeda, namun dalam sejarah itu muncul unsur-unsur yang sama karena semua Gereja itu merupakan pewujudan Gereja Kristen yang Esa dan Am yang merupakan satu kesatuan di bangsa Indonesia.
Beberapa persoalan yang kita hadapi dalam membahas sejarah Gereja Indonesia secara Khususnya:
1.      Titik pemulaan sejarah Gereja di Indonesia tidak ada kepastian apa lagi mengenai jemaat-jemaat yang mungkin mereka dirikan. Lain hal nya dengan dengan jemaat-jemaat yang oada abad ke-16 didirikan oleh pekabar-pekabar injil katolik Romah di Minahasa, maluku dan Nusa Tenggara Timur. Permulaan sejarah gereja Indonesia ialah saat pelayannan babtisan kepada seorang indonesia. Yang pertama kali melayani baptisan di indonesia adalah khatolik, oleh karena itu dianggap bahwa sejarah Gereja Indonesia telah mulai pada abad ke 16.
2.      Persoalan lain ialah: sejara gerereja tidak lepas dari sejarah dunia, ia malah sebagian dari padanya. Agak anae rasanya jikalau kalau sejarah itu diceritakan sampai datangnya VOC.bagi periode setelah tahun 1800 kami menganggap lebi baik kami membahas sejarah GKR dari beberapa pasal terdiri. Pembagian bahanmerupakan soal yang cukup rumit, caranya ialah kita pilih segi perkembangan organisasi gereja lalu kita menetapkan pembagian sesuai dengan tahap-tahap perkembangan segi organisasi itu.
Dr muller-Kruger dalam bagian pertama bukunya bertolak dari segi siapa pemberitaan injil. Dengan demikian diperoleh periodisasi sebagai berikut: 1520-1605, zaman misi khatolik Roma; 1605-1800, Zaman Zending VOC, 1800-1940 zaman zending oleh lembaga-lembaga pekabaran injil. Yang menentuka batas waktu periode pertama (1522-1800) ialah pertimbangan-pertimbangan yang berikut, dalam periode itu negara (Portugis, VOC) memainan peranan penting dalam perluasan dan dalam pemerintahan Gereja dilain pihak misi zending diselenggarakan oleh suatu lembaga gereja dan membawah suatu bentuk ibadah dan ajaran yang berlaku dalam gereja itu.
Agama dan masyarakat Indonesia asli
Sebelum Agama Kristen mulai masuk ke Indonesia, agama di negeri ini sudah melalui sejarah yang panjang dan yang berbelat-belit, kitamenyebutnya agama suku. Sebutan agama suku tepat sekali, sebab agama-agama itu memang masing-masing tterikat pada salah satu suku. Sukuh serta bagian-bagian suku, marga, merupahkan persekutuan ibadah. Suku itu mempunyai cerita-cerita atau mitos yang menceritakan asal-usul suku yaitu silsilanya yang melalui nenek moyang naik sampai kepada dewa-dewa.
Dalam lingkungan agama suku, orang tidak hanya menyembah dewa-dewa serta nenek moyang. Ia merasa segan terhadap oknum dan benda-benda yang terdapat dalam lingkungannya sendiri. Orang orang ini di segani karena diangap mempunyai kekuatan khusus, kesaktian. Keuatan itu malah hadir dimana-mana.
Kalau kita membandingkan corak umum agama suku dengan agama Kristen sebagaiman dinyatanakan dalam kitab suci, kita melihat perbedaab pokok;
1.      Dalam agama suku tidak ada garis pemisa yang tajam antara pencipta dengan yang diciptakan. Namun Allah yang maha tinggi itu berkenan mengikat perjanjian dengan manusia penciptaanNya.
2.      Dalam agama suku, manusia secara azasi sanggup memenuhi kehendak dewa-dewa serta nenek moyang asalkan diberi tahu tentangnya.
3.      Agama suku mempunyai hukum ilahi manusiawi yaitu adat yang berlaku secara mutlak. Kehidupan manusia diatur seluruhnya olehnya, manusia tidak dapat lolos dari adat. Manusia dalam agama suku adalah manusia yang terikat dalam seluruh bidang kehidupannya sedangkan manusia dalam agama Kristen adalah manusia yang bebes memilih jalannya
4.      Dalam agama suku pandangan orang terbatas dengan sukunya sendiri. Dan aturan hidup yang berlaku dalam lingkungan sukunya merupakan satu-satunya aturan yang tepat.
5.      Tidak ada perbedaan mutlak antara yang baik dan yang jahat
6.      Memandang kemasa lampau sehingga bersifat konservatif, sedangkan agama Kristen tidak mempunyai aturan yang sempurna yang diturunkan.
Kalau kita meninjau sejarah agama Kristen di indonesiamaupun diluarnya, bahwa agama Kristen sering mempunyai bentuk yang lebih menyerupai agama suku. Dalam agam Kristen ternyata agama suku hdup terus disebabkan oleh pengaruh lingkungannya. Agama suku berpengaru terus dalam Gereja.
Agama-agama dari luar datang ke indonesia
Sejak abad-abad pertama tarikh masehi, indonesia mempunyai hubungan perdagangan dari wilayah-wilayah asialainnya.  Barang dagangan yang dihasilkan indonesia adalah rempah-rempah. Kota-kota pelabuhan sempat menjadi kaya raya berkat perdagangan itu, pada abad-abad pertama sesudah masehi, pedagang-pedagang Kristen dari mesir dan persia menetap di Arabia tenggara, di India barat dan selatan dan srilangka. Jemaat-jemaat mereka di India selatan bertahan terus sampai sekarang (Gereja Mar Thoma). Bukan idak mungkin bahwa dri sana pedagang-pedagang Kristen datang ke Indonesia juga.
Ktita tahu juga bahwa dalam abad ke 14 dua kali seorang misionaris dari barat singga di sumaterah, tetapi bagaimanapun juga kehadiran orang-orang Kristen dari luar itu tidak meninggalkan bekas di Indonesia. Sebaliknya agama-agama Hindu dan budha yang juga dibawah kemari melalui jalan perdagangan berhasil menetap di Indonesia. Kerjaan sriwijaya  menganut agam budha dan dikerajaan-kerajaan jawa pada umumnya menganut agama hindu. Pada abad ke 13 suatu agama lain lagi masuk di Indonesia melalui perdagangan, enam ratus tahun sebelumnya islam telah merebut arabia, mesir dan persia dan dibawa ke pelabuhan-pelabuhan di India Barat, islam mulai tersebar di sana sejak abad ke 9 dan berkuasa pada abad ke 13. Dari gujarat saudagar-saudagar  yang beragamamulai menyebarkan ke indonesia mulai dari ibu kota pelabuhan  dan mengikuti jalur perdagangan.
Pada tahun 1292, kota perlak di sumatera Utara(aceh) sudah beralih kepada agama Islam di susul oleh banyak kotalain didaerah pesisir malaya, sumatera, jawa dan maluku. Ternate masuk islam lebih dahulu (± 1480) dari pada sulawesi selatan (±1600), dijawa  sejak (±1420), sekitar tahun 1550 pedalaman jawa sudah mulai di islamkan.
Saudagar-saudagar dari luar datang keindonesia untuk berdagang, tetapi mereka juga membawa serta agama mereka masing-masing : Hindu, Budha, Kristen, Kristen dan Islam. Pada agam ke 15, agama Islam telah diterimah oleh kebanyakan penduduk pantai indonesia.
Agama Kristen orang-orang barat
Bangsa barat masuk ke indonesia pada abad  ke 16 dan ke 17 yaitu orang portugis dan orang belanda mereka menganut agama Kristen katolik. Dalam abad pertengahan agama katolik bersifat hirarkis namun gereja mengusahakan keseragaman yang sebesar mungkin antara lain dalam hal ibadah, pelayan sekramen dianggap lebih penting dari pada pelayanan Firman khususnya babtisan, perlu mutlk demi keselamatan. Beriman tidak pertama-tama berarti memahami dan menyambut apa yang dikatankan dalam firman  Tuhan tetapi terutama taklhuk pada kekuasaan Gereja.
Perlu diperhatikan juga hubungan antara gereja dan negara. Masyarakat Eropa dalam abad peretengahan masih mengakui kesatuan azazi seluruh kehidupan. Dalam gereja abad pertengahan, pertarakan dipandang sebagai bentuk kehidupan Kristen yang paling tinggi.
Itulah orang-orang barat yang pertama datang keindonesia. Agar mencapainya, selama abad ke 16, mereka mereka melancarkan perang yang sengit melawan pedagang-pedagang Asia. Beberapa tahun kemudian mereka mendirikan benteng ternate (1522). Orang-orang portugis berhasil menakhlukkan lawan mereka yang paling kuasa yaitu malaka. Antara tahun 1570-1600 kekuasaan ternate semakin besar.
Orang-orang belanda ingin memperoleh monopoli dalam perdagangan antara asia dan eropa. Wadah mereka ialah Verenigde Oostindische Compagni (VOC). Orang-orang belanda adalah pedagang yang tidak mengutamakan pekabaran Injil, mereka menjamin untuk mendukung gereja pada umumnya dan pekabaran injil pada kususnya.
Dalam ke 16 sampai ke 18orang-orang barat berusaha membangun Gereja di Indonesia.


Misi di Maluku sampai tahun-tahun 1540-an
Tahun 1500 daerah maluku mengalami perubahan besar dibidang politik dan agama, selanjutnya, nasib agama Kristen di indonesia timur akan tergantung dari orang-orang portugis dengan sultan ternate, bubungan ini ditentukan oleh 3 faktor : yaitu ekonomi, agama dan politik. Orang – orang pertama yang masuk Kristen ditarik oleh seorang awam terjadi dipulau halmahera tahun 1533 di daerah mamuya. Kepala mamuya yang memakai gelar kolano menyambut baik nasehat orang asing itu. Setelah beberapa hari mereka diberi pelajaran agama Kristen, lalu dibabtis setelah itu mereka pulag ke kampungnya.
Metode yang dipakai orang-orang portugis dalam menjalankan misi dengan mengguakan kekuasaan politis yang merupakan faktor yang mendorong mereka untuk menerima agama baru. Untuk orang-orang kristen yang baru itu masih dianggap perlu pendidikan lebih lanjut, pendidikan itu tidak diberikan dalam bahasa daerah yang tidak mungkin dipelajari dalam waktu yang singkat, tetapi dalam bahasa campuran seperti melayu portugis.
Akan tetapi bulan madu misi dihalmahera tidak berlangsung lama. Persaingan antara raja maluku dan raja-raja maluku. Namun pada tahun itu juga datanglah seorang panglima lain antonio galvano (1536-1540) seorang yang bijaksana dan selama pemerintahannya misi  mendapat angin kembali, beberapa tokoh masyarakat ternate sendiri masuk Kristen karena tertarik pada beliau. Dan untuk sementara waktu dibuka suatu sekelah diternate dimana anak-anak kristen indo-portugis dan anak-anak kristen pribumi bersekolah disana.
Prajurit-prajurit paus
Dalam tahun 1540 dimaluku mengalami perubahan, masuk unsur baru yaitu serikat yesus (orang-orang yesuit). Para misinaris baru khususnya yesuit yang bekerja dimaluku membawa juga metode-metode yang baru tidak mau lagi membaptis orang apa lagi sudah dipastikan bahwa pendidikan agama itu tidak bisa diajukan. Orang-orang yesuit tidak segan menggunakan tangan kuat negara yang mebantu misi.pada tahun 1540 orang yesuit memili maluku sebagai salah satu wilayah kerja mereka. Mereka membawa semangat baru dan metode baru yang mendobrak ideologi negara namun mereka sendiri tidak bebas dari suatu ideologi gereja yang tidak segan memakai alat-alat negara demi melindungi da menyelamatkan misi.
Pekerjaan Fransiskus Xaverius di Maluku (1546-47)
Ia mempersiapkan diri menjadi seorang imam tanpa merasa panggilan yang khusus. Ia menjadi seorang yang anggota pertama serikat yesus (1534-1540), hanya kebetulan ia menjadi seorang misionaris. Ia beerja di Goa di tengah-tengah orang portugis dan indi-portugis yang kehidupannya dibobrok betul. Ia tidak hanya bergaul dengan Kristen tetapi juga epada muslim, kusus di ambon dia membabtis satu orang dengan cepat sekali
Agama Kristen di Maluku utara (1547- akhir abad ke-18)
Sesuda tahun 1547, usaha misi berkembang berkembang terus sampai meliputi wilayah yang semakin luas di indonesia di ternate merupakan pusat kegiatan misi, di situ menetap juga orang-orang yesuit. Pada saat-saat portugis yang sedang rujuk ketiga penguasa islam yang lain yang ain memusuhi orang-orang portugis dan menghambat misi serta anak buahnya. Sesudah masalah itu, cara terbaik untuk menjalin persahabatan dengan orang-orang portugis  adalah dengan menerimah agama mereka
Di tahun 1569 gereja kriten di maluku utara telah mencapai puncak perkembangannya. Tidore juga merupakan pusat kekuasaan orag portugis di maluku utara dan dengan demikian juga menjadi tempat kegiatan misi.
Telah muncul suatu kekuatan baru di maluku yaitu orang-orang belanda. Mereka merebut ambon 1605 mendesak orang portugis dan spanyol ke daerah barat. Mereka tidak mengabarkan injil, pemerintah VOC tidak merasa terpanggil dalam menabarkan injil kepada orang-orang yang bukan kristen. Akibatnya jemaad kristen yang ada di ternate dan dimaluku utara hanya merupakan jemaad benteng, sejarah jemaad ini berlangsung sampai pada abad ke 18 sampai pada saman kita. Jemaad-jemaad protestan ini berdiri disamping jemaat katolik spanyol/ portugis di ternate dan tidore.kesadaran akan tugas penyiaran agama kristen lebih hidup dan pada tahun 1666 kedua benteng terahir itu dikosongkan, tamatlah riwayat misi katholik di maluku.



Gereja di Maluku Selatan selama Masa portugis (1538-1605)
Dalam tahun-tahun setelah kunjungan Xaverius usaha pekabaran injil terus berkembang. Kekristenan ambon pada waktu itu kurang sekali dapat pemiliharaan dari luar. Xaverius sendiri hanya beberapa bulan saja lamanya tinggal diambon, ia mengirim orang imam yesuit yang bekerja keras namun belum dua tahun dia mati dan anggota kristen di ambon berdiri sendiri, hanya lima dan enam tahun lamanya gereja di ambon dilayani seorang imam. Pada tahun 1569-1570 yang merupakan masa tentram, para misionaris membaptis 8.000 orang-orang dewasa dan anak-anak. Orang-orang kristen juga di terima di beberapa kampung seram selatan. Setelah itu oeristiwa-peristiwa datang mengganggu misi di ternate dan kehidupan jemaad di ambon. Di pusat setelah 1560-an biasanya ada  dua atau tiga orang misioner mereka mendirikan agamaseperti yang sudah dilakukan oleh xavirius. Mereka mendidik dan mengangkat tenaga-tenaga setempat para pater menjalankan satu sekolah, anak-anak diberi pendidikan mengenai iman Kristen. Dalam waktu yang panjang gereja di maluku berkembang dengan baik. Mereka mendidik, mengangkat tenaga setempat. Di pusat para pater menjalankan sebuah sekolah dengan mengajarkan agama dan mata pelajaran lainnya yang menjelaskan pokok-pokok iman Kristen dan dasatitah
Gereja di Maluku Selatan pada zaman VOC (1605-1800)
VOC adalah badan perdagangan mereka ingin memperoleh monopoli hak  tunggal untuk jual beli rempah-rempah. Orang portugis telah gagal dalam usaha ini tapi VOC jauh lebih kuat. Kebijakan VOC itu membawa akibat bagi penyiaran agama Kristen, VOC mendukung pemeliharaan orang-orang kristen dan pekabaran injil di daerah yang dikuasainya yaitu ambon lase dan banda.
Orang-orang kristen di ambon dan lease mempunyai agama yang sama seperti agama orang portugis musu VOC, orang-orang kristen yang baru di taklukkan itu, imam-imam khatolik diusir, tidak ada lagi ibadah dan sekolah minggu. Setelah dua tahun ketika Ambon dikunjungi lagi oleh suatuarmada VOC, orang-orang Kristen Ambon meminta juga agar sekolah dibuka kembali dan dikabulkan, VOC sibuk mencari pendeta di tanah air dan yang pertama di ambon mulai dari satu sampai enam orangmereka tinggal di pusat kota ambon, orang-orang ambon tidak puas dengan sekolah yang satu yang telah didirikan dipusat. Kekristen ambon dan lease berkembang jumlah orang-orang kristen bertambah naik dari 16.000 pada akhir masa portugis menjadi 33.000. anggota sidi mendapat kunjungan, khotbah dibacakan di kampung-kampung, doa malam diadakan tiga kali sehari. Bahasa yang dipakai dalam semua tulisan adalah bahasa  melayu. Hanya satu orang yang memihak pada bahasa ambon asli yaitu heurnius            (1633-1638), tetapi heurniu kena racun dan terpaksa meninggalkan pulau.
Orang memilih bahasa melayu karena dengan menghadapi orang-orang ambo mereka menggunakan metode tertentu, sama sebelmnya dengan menggunakan metode menghafal. Pendekatan tadi menjadi nyata juga dalam sikap agama dan agama asli. Orang-orang belanda di ambon tidak berusahauntuk sungguh-sungguh mempelajari agama dan kebudayaan suku, pemerintah VOC membantu membasmi kekafiran. Kritik yang paling mendalam ialah bahwa orang-orang ambon tidak  mengalami perubahan hati, dan tidak sungguh-sunggu dalam penghayatan iman Kristen.           
Setelah tahun 1780 kekuasaan VOC merosot dengan cepat, dan daerah ikut menderita terutama gereja di daerah-daera pinggiran, jumlah pendetaikut berkurang, dan tidak ada lagi pelayan sekramen, dan dengan kedatangan Joseph Kam, mulailah zaman baru di maluku.
Gereja di Sulawesi Utara dan Sangir-Talaud (1536-1800)
Pulau ini tampaknya mempunya hubungan dengan dunia luar  dari pada daratan Minahasadan dan organisasi politisnya sudah berupa keajaan.pater Magelhaes di sambut dengan gembira di Manado dan menggunakan waktu dua minggu mengajar mereka tentang pokok-pokok kekristenan dan juga mengunjungi dua daerah yaitu kadipan dengan membabtis 2.000 orang selama pengajaran 8 hari, setelah itu ia kembali ke ternate, untuk menunjukkan orang Kristen yang telah dibabtis berkelompok itu perlu dibimbing sungguh-sungguh bukan selama dua puluh bulan melainkan tiga puluh tahun lamanya untuk dikatakn sebagai jemaat yang mantap. Raja bolaang mangondow raja gorontalo dan raja banggai semua meminta supaya seorang misinaris datang berkunjung kedaerah mereka.
Setelah orang-orang spanyol merebut kembai maluku utara (1606)   minat orang Kristen tumbu lagi, namun dirintangi oleh kematian-kematian pekerjanya. Patra misionaris yang kemudian mulai lagi menyebarkan Injil (1619) mengalihkan perhatian daerah pegunungan.  Lima belas tahun kemudian (1644) terjadi lagi peristiwa yang serupa. Orang-orang kompeni mengusir orang-orang spanyol dari sulawesi utara, orang-orang katholik di jadikan Protestan.
Orang-orang belanda membutuhkan minahasa sebagai gudang perbekalan sedangkan siau terdapat cengkeh dan membangun benteng dimanado (1666), tahun 1667 mereka mengadakan perjanjian dengan raja siau. Pendeta kedua yang datang ke manado dan sangirmemberi laporan (1675) dua minggu berkhotbah enam kali meninjau sekolah minggu. Sejak tahun 1789, tidak ada lagi seorang pendeta datang berkunjung, jemaat-jemaat terlantar sampai tahun 1817
Gereja di Nusa Tengga Timur (1556-permulaan abad ke-19)
            Mulai dengan berita tentang tahun 1556, pater Antonio taveira membaptis 5. 000 orang di timor yaitu Flores, Larantuka dan sekitarnya. Taveira adalah seorang anggota ordo dominikan. Daerah NTT merupakan wilayah kerja ordo. Untuk menjamin kehiduoan jemaad ini orang-orang kristen baru dan pater mengambil dua tindakan dengan mengirim dua orang ke malaka agar mendapat pendidikan di sana, dan ketika pulang mereka menjadi guru di tanah air.
Menjelang akhir abad ke 16 orang-orang yang di bapsstis sudah berjumlah sekitar 25.000 jiwa. Disebelah Timur terdapat perkampungan orang-orang pribumi katolik kira-kira 1.000 orang. Ada suatu sekolah, gedung-gedung Gereja yang sederhana           
Kedua pemuda yang diutus ke malaka itu murtad setelah pulang ke kampung mereka. Orang-orang Kristen di solor terbagi atas dua kelompok yang sudah dari jaman dahulu saling memusuhi, misi tak dapat dan terpukul juga.jumlah orang-orang Kristen telah berkurang. Dan orang belanda datang dengan merebut benteng solor (1613). Orang orang VOC dan portugis memperebut wilayah NTT. Orang-orang merebut benteng di solor pada tahun 1613, mereka mengirim dua orang pendeta bagi  gereja protestan, mereka berhasil memelihara rang-orang Kristen sehingga tetap katolik berartianti belanda. Pada tahun 1670 di kirim lagi seorang pendeta untuk menetap di Kupang namun ia meninggal dan diganti namun juga meninggaldalam waktu yang singkat. Tahun-tahunitu juga agama  kristen protestan mulai  masuk kedalam penduduk pulau timor, tahun1670 an satu dua raja meminta untuk dibaptis atau juga pengikut mereka.
Tahun  ke 18 jumlah orang-orang Krieten di Timur mulai dikuasai oleh belanda mulai dari 48 orang tahun 1719, sampai 460 sepuluh tahun kemudian  dan 1300 orang pada tahun1753. Tahun1749 orang portugis hendak menyerang kupang dengan tentara yang kuat, orang orang belanda dan sekutu mereka terkejut. Agama Kristen dibawa ke NTT mulai tanhun1556, perluasannya terjalin dengan sejarah ekonomi dan politis daerah.
Gerejadi indonesia Barat, Khusus di Batavia (Jakarta) (1550-1800)
Pulau jawa dalam abad ke 16 sudah di islamkan, hubungan politis membawa hubungan agama. Beberapa tenaga misionaris dikirim ke panurukan dalambangan 1569-1599, mereka berhasil membaptis sejumlah orang termasuk beberapa anggota keluarga raja. Tahun 1690  seorang misionaris bekerja di pedalaman kalimantan selatan dan berhasil membaptis beberapa ribu orang, ia mati terbunuh dan hasil-hasil pekerjaannya hilang tidak meninggalka bekas. Di sulawesi selatan dua raja berkenalan dengan agama kristen melalui kesaksian seorang pedagang portugis dan mereka ingin di baptis. Orang -  orang portugis hanya memusatkan perhatian mereka kepada indonesia bagian timur yang dari sudut ekonomis lebih penting  bagi mereka.
Ambon merupakan jajahan VOC yang pertama di nusantara, disitu terdapat gereja protestan pertama yang terbesar di indonesia, VOC membutuhkan pangkalan yang besar dan mereka merebut kota jakarta dijadikan pusat kekuasaan mereka di indonesia. Mula-mila orang kristen di beri pemeliharaan rohani yang lazim di kapal-kapal dan di benteng-benteng, kabaktian dalam bahasa melayu, perayaan perjamuan kudus dan pembentukan majelis gereja. Pertama kali perjamuan kudus dirayakan di asia menurut peraturan protestan. Gereja itu berkembang terus dengan pesat, sama seperti kotanya jumlah anggota bertambah terus. Tahun 1700 boleh ditaksir ada bangsa 15.000 orang kristen, terdapat jumlah sekolah dengan kira-kira 5.000 orang murid.
Pendeta-pendeta yang melayani di batavia pada zaman VOC biasanya berkebangsaan belanda. Yang satunya adalah  ialah cornelis senen (1600-1661). Ia seorang banda, ia dibawa ke jakarta dan menjadi guru tetapi dia seorang yang bijaksana dan saleh. Dalam jemaat-jemaat melayu portugis ia meninjau sekolah-sekolah, mendidik dan menguji guru dan memeriksa calon-calon baptis, berkhotbah dan memberi katekisasi. Master cornelis dan bekerja keras serta bersabar tanpa memprotes. Ia sangat dihormati oleh semua pihak termasuk belanda. Di indonesia pada zaman VOC tidak di adakan rapat klasis atau sinode, alasannya pemerintah tidak suka kalautoko-toko gereja berkumpul dan berunding, karena nantinya gereja akan mengatur diri sendiri. Selama masa VOC hal-hal gerejani, juga menyangkut jemaad-jemaat lain diurus oleh pemerintah dan majelis jemaat. Dengan meluasnya perdagangan dan kekuasaan VOC maka dibentuk juga jemaat-jemaat di tempat-tempat lain: malak, makasar, ujung pandang, padang semarang dan lain-lain. Selama abad ke 17 ada sejumlah orang yang masuk Kristen. Jemaat-jemaat di indonesia barat menjelang abad ke 18 kekayaan VOC merosot, akibat merosotnya VOC, karna hilang tingkat dari negara eropa. Jemaat ini hanya bisa mempertahankan diri dab bertumbu kembali karena dalam abat kesembilan belas kekuasaan belanda di indonesia  mengalami perkembangan baru.
Menjadi Kristen
Misi dan zaman gereja VOC sebagai satu kesatuan. Bagi orang indonesia antara protestan dan katolik merupakan masalah orang asing yang tidak menyangkut mereka, polanya terdapat kesaan yang menonjol. Sepanjang zaman yang kita bahas adalah orang-orang indonesia yang masuk kristen yang datang secara berkelompok mereka yang datang dari agama suku ada pula yang masuk perorangan. Mereka datang dari agama islam dan mereka tinggal di kota batavia. Mengapa orang-orang itu masuk Kristen? apa Karena sudah sadar akan kepercayaan serta adat mereka yang lama? Kesimpulannya adalah  ada alasan-alasan lainyang menggerakkan hati orang sehingga mereka ingin memeluk agama kristen. Selain dari pada itu ada karena politis, orang barat mempunyai wibawa yang cukup tinggi, tertarik dari kepribadian sang pekabar injil. Alama yang sah untuk masuk agama kristen hanyalah satu; adanyaiktiar untuk berpaling radikan secara radikal kepada Allah yang mulai dikenal dalam tokoh Kristus Juruselamat.
Di Indonesia karangan-karangan itu hanya bisa berguna sekiranya disalin ke dalam bahasa setempat dan diterjemahkan kedalam lingkungan hidup setempat. Para penginjil sering kali bukannya bukannya menolak alasan itu atau berusaha membelokkannya, melainnka mereka justru memperkuat kecenderungan itu dengan menyatakan bahwa agama kristen terang-terangan adalah agama yang benar karena Allah telah memberi kemenagan-kemenangan kepada orang-orang kristen. Kebanyakan orang indonesia  dilayani oleh guru-guru atau penghibur orang sakit yang tidak mendapat pendidikan yang memadai. Persoalan ini hanya mampu sipecahkan dengan mendidik tenaga pribumi yang trampil dan memang ada usaha di bagian itu antara lain dari pihak pendeta-pendeta Danckaest dan heurnius tahun 1620 an dan 1630 an. Usaha-usaha itu memberi hasil baik, tetapi tidak dilakukan dengan cukup luas dan sistematis.
Orang-orang kristen baru mudah sekali jatuh kambali kedalam agama kafir, entah mereka tetap kristen nominal, entah mereka benar-benar murtad. Pekerja-pekerja misi atau pendeta-pendeta VOC sudah biasa memberikan penilaian yang negatif kepada terhadap orang kristen indonesia. Itu baru dilakukan oleh sending dan misi pada abad ke 19.
Jemaat Kristens
Di jemaat-jemaat luar pusat ibadah di adakan dalam bahasa melayu saja, di jemaat-jemaat pusat diadakan secara terpisah-pisah bagi beberapa kelompok tersendiri dimana orang-orang memakai tiga bahasa. Masing-masing kelompok dilayani dalam bahasa sendiri dan sedapat mungkin oleh imam atau pendetanya. Sebab dalam bahasa itu iman kristen dapat diperkenalkan kepada orang-orang indonesia dan mereka dapat dipelihara didalamnya.
Gereja di Belanda telah mengambil keputusan bahwa nyanyian-nyanyian yang boleh dipakai dalam kebaktian resmi hanyalah mazmur-mazmur daud dan itu yang dipakai di indonesia. Dalam missi saat itu penerjemahan Alkitab tidak dilakukan, mereka tidak menerjemahkannya kedalam salah satu bahasa daerah di Indonesia, kecuali heurnius yang mnyalin sejumlah bagian pokok dari Alkitab kedalam bahasa Lease (Saparua), pada tahun 1668 terbitlah perjanjian baru lengkap dalam bahasa melayu (Brouwerius), kita tidak tahu sampai berapa jauh terjemahan-terjemahan tersebut digunakan dalam jemaat-jemaat berbahasa Melayu, yang pasti bbahwa orang belum puas dan terjemahan-terjemahan itu tidak diterimah secara resmi oleh gereja. Leijdecker memakai bahasamelayu yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Pemerintah VOC mengambil keputusan bahwa terjemahan leijdecker harus di terbitkan, alkitab itu dipakai di jemaat-jemaat berbahasa Melayu. VOC mewajibkan jemaat Kristen untuk mengadakan ibadat doa malam dipimpin oleh guru setempat atau seorang penhibur orang sakit. Yang berhak melayani sekramen-sekramen pada umumnya adalah pendeta. Gereja protestan secara resmi tidak berada di bawah pemerintah dan juga tidak mengenal hirarki. Dan VOC tidak berlambat-lambat menuntut hak-hak lebih pelayanan khusus. Sesuai dengan struktur hirarkis dalam organisasi Gereja kesaksian keluar (pekabaran Injil, apostolat).


Anggota Jemaat dan Masyarakat
Iman kristen itu hidup berdampingan dengan kepercayaan kafir dan diresapi olehnya. Terdapat banyak tuduhan-tuduhan mengenai penyembahan kepada hantu-hantu dan roh-roh nenek moyang. Agama kristen di pandang sebagai suatu sistem larangan pemerintahan, akan tetapi kita mendengar pula bahwa mereka menggunakan sisah-sisah roti dan anggur, adan air baptis sebagai air obat. Ddari situ  kita melihat kesimpulan bagi orang Kristen Indoesia makna perjamuan itudipahami dengan cara yang serupa dalam agama suku. Pengaruh Injil di kalangan mereka disaingi oleh pengaru adat yang lama dan juga teladan buruk yang perlihatkan oleh orang-orang Eropa
Nampak juga engaru injil dalam kehidupan orang-orang Kristen Indonesia zaman itu, banyak diantaranya setia kepeda agamanya meskipun ada penganiayayaan. Orang-orang Kristen pada zaman itu hidup terpisa daro orng-orang yang bukan Kristen, bahkan hidup terpisah dari teman-teman sebangsa mereka, gereja tidak berbuat apa-apa tentang korupsi yang merejalela di kalangan orang belanda yang menjadi anggotanya. Hasil yang mengecewakan adalah tenaga pekabaran Injil kurang sekali, tenaga indonesia kurang dididik, Injil dibawa dalam bahasa asing, pemimpin jemaad kurang memimpin Agama dan lain sebagainya.
Perubahan-Perubahan di Indonesia dan di Eropa
Pada permulaan abad ke 19, keadaan indonesia sudah engalami perubahan yang cukup besar, pertama-tama dibidang agama, politis, dan wilaya yang diperintakan oleh Belanda semakin bertambah, dan boleh dikatakan tahun 1910 an tidak ada lagi bangsa indonesia  yang memepertahankan kemerdekaan kecuali secara nominal. Peristiwa yang paling penting adalah perang di ponegoro jawa tengah (1825-1830) dan perang ace (1873-1903) tetapi disana-sini terjadi pertempuran. Agama Kristen oleh orang banyak dipandang sebagai agama orang eropa agama belanda sehingga sikap mereka terhadap Injil sering ikut ditentukan oleh sikap mereka terhadap orang-orang belanda sendiri. Belanda mulai mengurus daerah yang dikuasainya secara langsung. Perubaha-perubahan ini juga mempengaruhi hak-ihkwal agama kristen dan penyiarannya di indonesia. Orang-orang Eropa tidak sama dengan nenek moyang mereka pada abad ke 16 dan 17. Beberapa perubahan yaintu mengenai pencerahan merupakan aliran yang mengatakan manusia harus berani berdiri sendiri. Pencerahan juga mempengaruhi juga sikap orang-orang Eropa terhadap bangsa lain.
Lain lagi aliran Pietisme (di daratan Eropa) atau Revival (di negeri-negeri yang berbahasa inggris). Cita-citanya adalah supaya supaya orang yang menamakan dirinya Kristen itu benar-benar menghayati imannya, menyesal karena dosa-dosanya, merasakan kasih yang hangat kepada Kristus yang telah meyerahkan diri-Nya demi keselamatan mereka. Namun penganut-penganut aliran itu kurang menghargai lembaga gereja. Kedua alirab ini berpengaru besar dalam sejarah gereja di indonesia, pengaru pencerahan mengenai kebijakan penguasaan-penguasaan belanda di indonesia, sedangkan pietisme mengenai pekabaran Injil terhadap agama, adat kebudayaan, dan bahasa pribumi dalam penyajian firman Tuhan kepada orang bukan Kristen.
Gereja Protestan di Hindia Belanda (Indonesia)
Pada tahun 1814 Joseph Kam bersama dua rekannya tiba di indonesia. Pendeta pertama yang diutus dari negeri belanda ke Indonesia untuk melayani orang-orang Kristen disana. GPI meliputi orang-orang Kristen berkbangsaan Eropa dan orang-orang Kristen di indonesia yang tinggal di maluku. Pemerintah portugis dan VOC mengaku sebagai pemerintah Kristen. Kepentingan rakyat indonesia harus dimajukan dalam segala hal. Dan negara tidak campur tangan dalam soal Agama bahkan bersifat netral. Pada permulaan abad ke 19 keadaan-keadaan jemaat kristen di Indonesia tidak baik, pendeta hanya tinggal beberapa orang saja, daerah-daerah di luar pusat tidak dikunjungi lagi. Hanya dimaluku yang mempenyai akar-akar Kristen yang kuat.  
Setelah orang inggris mengembalikan jajahannya di indonesia kepada nederland (1816), barulah keadaan Gereja diatur secara baru, dilakukan oleh raja baru William I, menggabungkan jemaat gereja menjadi satu badan yang diberikan nama Gereja Protestan di hindi Belanda (Indonesia) dengan aturan yang berlaku yaitu GPI dipimpin oleh suatu pengurus yang diangkat oleh gubernur jendral yang berkedudukan di batavia. Ugas gereja ialah memelihar kepentingan agam Kristen pada umumnya dan Protestan pada khususnya. Hubungan dengan gereja di nederland akan berlangsung melalui sekelompok pendeta disitu yang antar lain bertugas menguji dan menguhkan pendeta-pendeta lain.
Akhir tugas gereja menurut peraturan GPI, disamping memperkuat kedudukan belanda di indonesia ialah memupuk pengetahuan religius dan memajukan kesusilaan rakyat, orang-orang yang menyusun peraturan GPI seakan tidak mengetahui bahwa dalam gereja itu terdapat orang-orang indonesia.
Lembaga-Lembaga pekabaran Injil
Di Nederland minat dan kepada penyiaran iman kristen bangkit kembali dalam abad ke 18. Ada kelompok-kelompok orang yang dengan penuh perhatian mengikuti usaha-usah utusan-utusan dari Herrnhut melalui brita-brita yang tercetak dari pihak mereka. Timbul juga gagasan-gagasan baru mengenai metode p. I Beberapa orang akan menyusun kerangka-kerangka itu.
Beberapa contoh lembaga-lembaga p. I yaitu1792 Baptist Missionary Society, 1795 london missionary society, mereka tahun 1779 mendirikan Nederlands zenndelinggeenootschaps (NZG) dan lain-lain. Di Indonesia sendiri orang-orang kristen yang tidak puas dengan GPI membentuk lembaga Alkitab (1814), serta lembaga-lembaga p. I di batavia (1815) dan ditempat-tempat lain. Lembaga-lembaga ini  didirikan dan diurus oleh anggota jemaat yang sedikit banyak terpengaruh oleh  cita-cita pietisme dan revial. Dengan demikian kita sampai kepada pokok berikutnya yakni hubungan antara zending dengan pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah mempersulit atau melarang p. I di daerah-daerah tertentu. Dalam hal ini pemerintah mengikuti pedoman yang sudah berlaku pada zaman VOC yaitu kepentingan diri sendiri, namun mendukung pekerjaan zending kususnya didaerah yang beragama suku.
Sikap zending tidak dapat dirumuskan dengan mudah oleh pemerintah karena zending bersifat negative. Bagi orang beanda kerajaan Allah tetap tidak sama dengan kerajaan belanda,dan mereka menyadari bahwa mereka bekerja untuk memperluas pekerjaan Allah, bukan demi keperluasan kerajaan belanda, namun kadang-kadan keperluasan kerajaan belanda itu perlu demi keperluasan kerejaan Allah.
Gereja Protestan di Maluku (1800-1864)
Tahun 1790-1820, Ambon dan kepulauan Maluku berada dalam keadaan yang tidak menentu. Segalah sesuatu diatur dari atas. Tahun 1780 masi terdapat 3 orang pendeta di ambon. Di saparua pendeta masi bertahan sampai tahun 1801. Pada tahun 1813, pemerintah Inggris mendatangkan seorang pendeta dari India yaitu Jabez carey, Joseph Kam berasal dari keluarga pietis dari belanda,
Orang-orang Kristen di ambon juga ingin tetap berpegang pada Agama Kristen. Kekristenan di Ambon dipelihara oleh guru-guru bukan pendeta. Dengan berkhotbah dari apa yang mereka susun sendiri. Bagi mereka tidak banyak yang berubah dengan perginya pendeta yang terahir, sebaliknya kekosongan pendeta itu hanya menandaskan kekurangan dan kelemahan selama zaman misi dan Gereja Gerefoormeerd.
Sekitar tahun 1800 di Maluku dan dunia luar terputus untuk sementara waktu, di maluku tengah kehidupan gerejani berlangsung terus dibawah pimpinan para guru, menurut corang yang berlaku sejak abad ke 17. Di wilayh-wilayah luar jemaad-jemaad semakin lemah atau malah menghilang, mulai tahun 1813 tenaga-tenaga baru membawa kekristenan gaya baru ke Maluku, unsur baru ini mulai mengerjakan pembaharuan dalam jemaat-jemaat, pemerintah berusaha mengekangnya namun pembaharuan itu berjalan terus.
Gereja di Minahasa sampai penyerahannya kepada GPI (1800-1880)
Tanah minahasa sangat subur dan penduduknya dipaksa untuk menghasilkan barang-barang bagi pemasaran dunia. Dalam abad ke 16 sejumlah orang-orang minahasan masuk Kristen. Josept Kam yang membuka jalan bagi zending baru, dialah yang menjadi perintis usaha p.I dalam arti yang sebenarnya.ia membuka sejumlah sekolah p.I, mengadakan perjalanan ke pedalaman, dan mengajak NZG agar mengirim utusan-utusan zending.
Masih tinggal sedikit bagaimana sikap parah utusan Injil terhadap Agam dan kebudayaan orang-orang minahasa, sikap mereka pada umumnya adalah negative yaitu:
Menentukan sikap dalam bahasa
Mengenai agama suku (kafir adalah liar)
Kebudayaan suku,
Sikap pemeintahan terhadap pekerjaan zending diminahasa tidak tetap, sampai-sampai ada orang Kristen yang dipukul karena telah pergi ke gereja pada hari minggu. Selama abad ke 19 manado tetap meupakan daerah GPI, sedangkan minahasa diberikan kepada NZG unuk digarap. Orang kristen bertambah dari berapa ribu menjadi 80. 000 orang. Mereka sekarang dimasukkan kedalam kerangkah organisasi GPI. Dengan demikian orang-orang Kristen minahasa sendiri tidak begitu banyak mengalami perubahan.


Gereja di Timor dan sekitarnya sampai NZG menarik diri (1800-1860)
Agama kristen belum berakar kuat dalam buni NTT, walaupun sudah kenal sejak  dua setenga abad. Jumlahnya hampir 10 ribu orang. Pemerintah Hindi belanda yang baru merasa bertanggung jawab atas jemaatKristen yang merupakan warisan dari zaman VOC, salah seorang zendeling yang telah di utus NZG ke indonesia disita dan dijadikan pegawai dalam gereja negara. Pada tahun 1819 pemerintah mengangkat R. Le Bruiji pekabar injil di maluku menjadi penjabat pendeta di kupang. Bruijn mengikuti Kam dan Hellendoorn membangun jemaat yang sudahada berkhotbah, katekisasi dan mendirikan sekolah serta bacaan-bacaan kristen. Secara kusus bruijn menterjemahkan semua nyanyian  Injil yang telah diterbitkan oleh NZG di Belanda, di ubahnya dalam bahasa melayu yang sederhana, ia mendirikan lembaga p.I pembantu. Dalam semua usaha ini bruijn didukung oleh pemerintahan setempat. Ia meninggal setelah utusan-utusan baru mulai bekerja, ia digantikan oleh Terlinder dan Terlinderpun meninggal sesudah tiga tahun saja
Para zending yang di pulau Rote dihalau oleh angin taufan. Akhirnya NZG tidak lagi mau membuang tenaga dan uang untuk timor, setelah tahun 1850 tidak ada lagi tenaga baru dikirim. Dalam kehidupan jemaat, tradisi jaman VOC belum bisa diganti dengan pola zending baru, oleh karen itu NZG menarik diri dari Timor dan lapangan ini kembali menjadi daerah GPI semata.
Pekabaran Injil di Kalimantan sampai perang Hidayat (1836-1859)
 Di daerah pesisir tinggal orang-orang melayu dengan menganut agama Islam, sejak abad ke 18 sudah dipengaru oleh Belanda. Daerah pedalaman dikuasai oleh orang-orang Dajak, mereka hidup terpencil dan berpegangan sama agama sukunya, agama kristen bagi mereka masih baru sama sekali.
Pendeta Medhurst, yang bekerja dikalangan orang-orang tionghoa di Batavia. Dari 1834-1857, RMG dan lembaga lain mengutus 20 orang ke Kalimantan, akan tetapi merekamenemukan kesulitan dari pihak pemerintah hindia belanda merasa kuatir kalau mereka diperalat untuk pemerintahnya untuk merongrong kekuasaan Belanda di Indonesia. Salah seorang diantara mereka menulis orang kuatir jangan-jangan orang melayu. Barnstein pada Tahun 1835 dapat pergi ke Kalimantan dan memili Banjarmasin sebagai pangkalan P. I. Tahun 1839-1850. Dalam tahun-tahun kemudian didirikan pos-pos P.I
Zendeling berusaha untuk mempengaruhi orang-orang dayak dengan mendirikan sekolah dan mengadakan kebaktian menggunakan bahasa dayak. Namun pendekatan ini kurang berhasil, oleh karena itu para zendeling disamping tetap menempuh cara mereka yang pertama yaitu mendirikan suatu masyarakat baru. Mereka tidak dipaksa masuk Kristen namun tetap mengikuti ibadah. Pada tahun 1859 barulah berjumlah 261 orang.
Kepara zendeling menetap di pedalaman yang masih beragama suku, dengan susah payah dan dengan pengorbanan jiwa yang sangat besar, mereka berhasil membabtis beberapa ratus orang dayak, hasil itu dicapai dengan menggunakan beberapa metode, akan tetapi perang hidayat pada tahun 1859 merusak hasil pekerjaan mereka dan memaksa mereka untuk memulai pekerjaannya kembali hampir dari titik permulaan.
Jemaat-Jemaat sampai saat pimpinan diambil ali oleh sending (tahun-tahun 1830-an sampai 1860-an)
Abad ke 18, sebagian besar pulau jawa dikuasai oleh orang-orang belanda secara langsung. Pada abad ke 16 pulau jawa sudah di islamkan, agam hindu masih bertahan pada tahun1770, namun mereka di usir oleh kompeni, orang-orang jawa terpengaruh dengan kebatinan, mereka memandan ibadah sebagai ngelmu  atau ilmu baru, yaitu suatu pengetahuan rahasia yang memberi kekuatan batin yang memilikinya. Pada tahun 1815 penganut agama kristen hanya terdapat dalam golongan orang-yang bukan jawa, oran belanda serta keturunan mereka. Orang kristen ini terdapat di beberapa kota besar yaitu surabaya semarang dan batavia.
Dijawa timur P.I dimulai dari seorang jerman yng telah merantau keindonesia yaitu pendeta emde (1774-1859) adalah seorang pietis, ia menetap di surabaya. Dijawa timurjuga telah muncul pusat penyiaran Agama Kristen yang kedua yaitu ngoro yang dipimpin oleh coolen(1775-1873),tidak ada paksaan dalam beragama, coolen menyuruh orang membangun mesjid. Pada tahun 1858 jellesma meninggal, pengaruh zending dalam lingkungan kekristenan jawa bertambah besar. Injil datang ke jawa tengah  melalui dua jalan yang pertama melalui usaha orang putih, dan yang kedua adalah penyiaran ilmu Kristen oleh penduduk ngoro dan mojowarno.
Jemaat-jemaat Kristen ini pada umumnya mempunyai corak jawa yang nyata. Badan-badan zending yang sejak tahun 1850 lama kelamaan mulai bertindak sebagai wali jemaat-jemaat Kristen di Jawa itu, berusaha untuk mengurangi unsur kejawen.
Gereja Khatolik Roma sampai  masuknya serikat Yesus (1808-1859)
Dalam abad ke 17 dan ke 18,secara resmi tidak ada gereja khatolik Roma di wilaya VOC. VOC tidak menerima kehadiran Rohaniawan khatolik Roma di daerah kekuasaannya, stelah tahun 1650 sikap pemerintahan VOC menjadi lebih lunak. Tahun 1750-1815 merupakan zaman kemunduran bagi Gereja khatolik roma, semangat P.I berkurang dann Misi mendapatkan pukulan yang hebat dan untuk sementar waktu (1773-1814) serikat Yesus di bubarkan. Setelah VOC bubar (1799), kebebasan itu juga berlaku juga di Indonesia. Dua orang imam praja (sekulir da, bukan anggota ordo) pada tahun 1808 kedua imam itu tiba di batavia satu orang tinggal di sana dan yang satunya lagi di semarang. Dua tahun kemudia sura baya dikirim pastor dari Paus, pastor Nellisen dengan gelar Praefectus Apostolicus (kepala  misi yang diberi wewenang oleh takhta rasuli yaitu paus sendiri).
Kedua pastor itu dan rekan-rekannya bekerja di tengah orang-orang khatolik dari golongan eropa asli dan indo eropa. Kita mendapat kesan corak kerohanian pastor dapat dicicipi dari pokok khotbahnya waktu mentabiskan gereja di surabaya.
Tinjauan umum atas periode 1800-1860: A para zendeling
Orang-orang Kristen berkebangsaan indonesia pada masa 1800-1860 ini terdapat baik didalam lingkungan GPI maupun di lingkungannya. Yang paling banyak adalah maluku, timor, kemudian juga minahasa. Tenaga-tenaga yang diutus oleh lembaga-lembaga zending di eropa pada umumnya berasal dari kalangan pietis. Pada zaman VOC usaha pekabaran Injil terikat pada suatu lembaga gereja yang tertentu.
Jumlah utusan zending pada masa 1815-1860 bekerja dalam jemaat-jemaat GPI dan di lapangan p. I tidaklah seberapa besar. Dalam pekerjaannya mereka tidak mau mengikat diri kepada ajaran dankita mendapat kesan bahwa tidak ada metode yang tegas. Para  zending menggunakan bahasa melayu dalam gereja dan sekolah karena di daerah itu terdapat berbagai bahasa suku. Para zending mementingkan keputusan orang perorangan untuk menerimah Kristus sebagai juruselamat yang dibahas disini ialah individualisme artinya dalam mengusahakan supaya orang bertobat dan supaya taraf hidup orang ditingkatkan.
Pemberitaan Firman oleh para zendeling pada zaman itu bersifat Kristosentris yang menjadi pusat. Perbandingan dengan cara kerja VOC cukup sama misalnya sikap negatif terhadap  kebudayaan pribumi, kecenderungan untuk menjadikan keadaan dalam gereja dan masyarakat. Ada pula perbedaannya bahwa zending pada abad ke 19 jauh lebih banyak memberi perhatian kepada penterjemahan Alkitab kedalam bahasa daerah. Dalam beberapa hal zending abad ke 19 memang maju atas zending pada zaman VOC
Tinjauan umum atas periode 1800-1860 : B. Orang-orang Kristen Indonesia
Jumlah orang-orang Kristen berkebangsaan Indonesia bertambah besar karena usaha zending di minahasa membawa hasil yang baik. Di kalimantan hanya beberapa ratus orang yang beralih dari kepada agama Kristen, di jawa timur dan tengah ada lebih banyak. Itu hasil gerakan dikalangan orang jawa. Bahkan ada juga yang masukkarena tertarik kepada pribadi seseorang pekabar injil, dan lain alasan. Tetapi ada juga orang yang masuk karena alasan yang sah yaitu karena tertarik pada pribadi Kristus yang didalamnya mereka melihat Allah secara utuh. Persiapan untukbaptis rata-rata dijalankan dengan kesungguhan yang lebih besar dari zaman VOC. Bahan-bahan katekisasi yang dipakai dalam persiapan itu berbeda-beda. Ada yang menggunakan karangan-karangan yang baru.
Dalam ibadatnya tetap mengikuti pola barat, mulailah diadakan nyanyian baru dalam bahasa daerah atau dalam bahasa melayu yang sederhana. Para peserta lebih banyak menghayati isinya dalam arti mereka memberikan juga sumbangan. Dalam hal organisasi gereja orang indonesia kurang diberi kesempatan untuk memainkan peranan, hanya para Guru serta penolonglah yang dapat dipandang sebagai tokoh-tokoh pemimpin pribumi. Agama suku yang lama masi berpengaruh terus di luar dan di dalam lingkungan agama kristen.
Periode 1800-1860 ini merupakan babak permulaan suatu zaman baru, yakni babak zending baru mengikat pinggang dan mulai bekerja. Dalam babak berikutnya (1860-1930), kegiatan zending akan berkembang terus, baik dari sudut jumlah tenagan maupun dari sudut metode kerjanya.
Ragi carita
SGI 1 (1500-1860) Dr. Th. Van den End


sejarah GSJA Bumiayu

Bab I
Pendahuluan
Latar Belakang

GSJA kepanjangan dari gereja sidang jemaad Allah yang berkembang di Indonesia sesuai dengan visi dan misi dari Allah untuk menjadi gereja yang bertanggung jawab atas setiap domba yang dipercayakan untuk digembalakan agar dapat bertumbuh kepada arah yang lebih baik. Sama halnya ketika GSJA Anugerah  BumiAyu dalam perkembangannya di dusun bumiAyu, desa  getasan, kecamatan sampetan kabupaten semarang. Tidak ada yang dikatakan kebetulan jikalau GSJA Anugerah berada di  BumiAyu karena dilihat dari nama tempatnya sudah menunjukan satu anugerah Tuhan untuk berdirinya sebuah Gereja di BumiAyu karena tempat tersebut mempunyai sejarah tersendiri dimana jaman dahulu BumiAyu masih disebut dengan nama kebun kopi karena tempatnya dipenuhi dengan  tanaman kopi serta ada beberapa warga yang bertani di kebun kopi. Menurut cerita bahwa salah seorang yang bertani di daerah kebun kopi sangat makmur dalam kata lain bisa usahanya dalam bertani atau mengolah tanah kebun kopi membawa berkat tersendiri dengan melimpahnya hasil tanah karena apa saja yang ditanam oleh bapak tersebut itu berhasil sehingga ketika sedang merenung dan mengagungkan kebun kopi tersebut akhirnya bapak tersebut mengucapkan kalimat bahwa bumi ini subur karena apa saja yang ditanam pasti tumbuh dan berhasil. Akhirnya dia menamakan bumi Ayu yang artinya bumi itu “tanah” Ayu “indah atau subur” jadi artinya secara singkat tanah yang indah atau subur, itulah sebabnya dinamakan BumiAyu. Namun setelah itu karena bertambahnya angkah kelahiran maka kebun kopi tersebut atau BumiAyu dijadikan tempat atau sebuah kampung, sehingga sampai pada perkembangannya dimana pertambahan penduduk masih terus dinamakan BumiAyu.

 Selain dari pada nama BumiAyu yang memiliki arti dari nama tersebut maka perlu kita melihat sesuatu yang tidak kebetulan yang terjadi di GSJA Anugerah, dimana kata Anugerah juga mempunyai sejarah bahwa selama berdirinya GSJA di BumiAyu hidup oleh anugerah dari pada Tuhan baik mulai dari awal berdirinya sampai pada pembangunan yang saat ini megah dan mewah. Mengapa dikatakan Anugerah karena beberapa hal seperti:
·         Jemaadnya datang dan pergi
·         Jemaad rela mengikuti ibadah sekalipun gerejanya tidak muat (gedung lama) duduk diluar
·         Dalam pembangunan dimulai dengan receh-receh
·         Jemaad yang berkorban jual material
·         Doa dan inisiatif jemaat
·         Dll
Jadi jikalau GSJA Anugerah BumiAyu boleh berdiri di BumiAyu itu bukan kebetulan bahwa semuanya sudah dirancang Tuhan untuk menepati tempa atau tanah yang baik dengan anugerah dari Tuhan. 

Bab II
Isi

A.    Sejarah berdirinya GSJA Anugerah BumiAyu
Gereja Sidang Jemaat Allah BumiAyu atau yang biasa disebut dengan GSJA  BumiAyu menempuh perjalanan yang sangat panjang dalam perkembangannya dimana pada awalnya sebelum berdirinya sebuah gedung gereja untuk menampung Gereja-gereja Tuhan yang akan di utus keluar dan menjadi saksi maka perlu kita melihat usaha para hamba Tuhan yang awal mula bole merintis gereja di BumiAyu. Diawali dengan perjalanan yang panjang dilewati oleh gereja ini dimana pada tahun 1985 terbentuklah sebuah persekutuan yang dilayani oleh bapa kasdi orang Krangkeng yang memimpin jemaad mula-mula untuk bersekutu kepada Tuhan tetapi beberapa waktu karena ada pelayanan lain yang diembankan kepada beliau maka diganti dari GKT Ungaran yaitu dilayani oleh bapak Jery dan Ibu Tungfang, namun setelah hambah Tuhan tersebut melayani beberapa tahun dengan adanya perubahan pelayanan maka pelayanan persekutuan tersebut di lanjutkan oleh hamba Tuhan yang lain yaitu oleh bapak Wahyudi dari GBI PLN Salatiga juga orang dari GSJA setelah beberapa tahun melayani kemudian diganti lagi dan dilayani oleh bapak Samuel Saputra, namun karena bapak Samuel Saputra ingin melnjutkan study untuk memenuhi persyaratan serta menambah ilmu dalam bidang keagamaan maka persekutuan tersebut ditangani oleh ibu Suryodaru dan kemudian bergabung dengan sinode GSJA di bawah asuhan GSJA Kaliurang.
Oleh karena jarak yang sangat jauh atau jarak tempuh yang jauh untuk mengetahui perkembangannya yaitu GSJA  BumiAyu maka GSJA Kaliurang menunjuk GSJA Merbabu Salatiga yang digembalakan oleh Bapak pendeta Markus Sukarno untuk membina Gereja Sidang Jemaat Allah  BumiAyu. Dari GSJA Merbabu Salatiga mengirim pelayan yaitu ibu tutik dan ibu titik, dan dari ibu Tutik dan ibu Titik, pelayanan dilimpahkan kepada bapak pendeta joko sungkono dengan status Gereja cabang GSJA Merbabu. Sejak saat itu bapak sungkono sebagai gembala sidang GSJA BumiAyu.


Dalam pergantian para pemimpin persekutuan tersebut  menggunakan rumah jemaad yang bersedia untuk dijadikan tempat persekutuan atau ibadah.
Pada tanggal 20 septe1992 bapak Pendeta Yohanes Mardi bergabung dengan bapak pendeta joko sungkono untuk membantu pelayanan di GSJA BumiAyu dengan status sebagai mahasiswa praktek weekend dimana Yohanes mardi datang pada hari jum’ad sore dan kembali pada hari minggu sore, Yohanes mardi adalah mahasiswa praktekan dari STT Intheos Solo. Pada bulan nofember tahun 1992 bapak pendeta sungkono melimpahkan pengembalaannya kepada bapak Yohanes Mardi dengan jumlah jemaat pada waktu itu 25 orang namun yang aktif pada saat ibadah minggu hanya kuranng lebih 20 orang. Hingga sampai pada saat ini pendeta Yohanes Mardi masih menjadi Gembala sidang GSJA BumiAyu yang saat ini disebutkan dengan nama GSJA Anugerah BumiAyu.

B.     Kasih Mula-mula Jemaat  dan munculnya kata ANUGERAH
Jumlah jemaat awalnya sekitar 25 orang, sekalipun bisa dihitung dengan jari namun pertumbuhan iman dan jiwa untuk penginjilan sangat besar. Walaupun hanya sedikit namun jemaat mengalami kasih mula-mula sehingga terjadi pertumbuhan terus. Sekalipun jemaat mengalami pertumbuhan terus menerus namun ada juga jemaat yang undur, ibaratnya ada yang pergi ada yang datang bahkan jemaat yang telah lama tidak datang mungkin karena bentrokan antar jemaat atau karena gembala, kembali mengikuti ibadah dan jemaat percaya jikalau itu adalah campur tangan Tuhan, dimana Tuhan mendengar seruan doa orang yang benar. Namun oleh campur tangan Tuhan sebagai kepalah Gereja mengembalikannya maka jemaat sepakat menamakan GSJA BumiAyu menjadi GSJA Anugerah BumiAyu karena Tuhan benar-benar memberi kehidupan kembali kepada GerejaNya.


C.    Pembangunan Gereja
Selama berdirinya GSJA BumiAyu sampai pada penambahan nama Anugerah, banyak jiwa-jiwa yang bertobat sehingga kapasitas ruang gedung gereja sudah tidak muat, bahkan selama dua tahun mendirikan tenda dihalaman gereja maka jemaad sepakat berdoa agar memiliki tanah yang lebih luas dan pada akhirnya membeli sebidang tanah dengan ukuran 816 m2. Dana pembelian tanah dikumpulkan melalui janji iman, jemaat, donatur, baikpribadi maupun lembaga Gereja. Setelah itu diurus surat ijin menbangun dalam waktu setahun dapat dikeluarkan (IMB). Pada tanggal 29 juni 2007 mulai peletakan batu pertama dengan modal 4 juta dengan bugdet 600 juta, namun semua didasari oleh kemauan dan mengikuti kata Tuhan.
Panggilan dana pembangunan ada banyak macam cara : janji iman jemaat dan diangsur, ada yang langsung ditunai, ada yang menabung lewat uang receh-recehan, bahan material, jual sepedamotor dan bahkan menyerahkan hewan peliharaannya seperti sapi bahkan ada orang-orang tidak dikenal melalui siaran radio betany bahkan jemaad bangsa-bangsa seperti Belanda, Korea selatan, mata uang dolar amerika dan dolar australia sehingga sampai pada berdirinya gedung Gereja saat ini dengan kapasitas yang memadai dan cukup bersaing dengan gedung gereja di kota-kota. Jumalah jemaat saat ini 200 jiwa dibagi dengan beberapa komsel Pria, wanita. Pemuda Remaja, dan sekolah minggu.

D.    Gereja Berkembang.
GSJA Anugerah BumiAyu selama dipimpin oleh Pdt. Yohanes Mardi sebagai gembala sidang cukup mengalami perkembangan dimana GSJAAnugerah BumuAyu sampai pada hari ini memiliki cabang yaitu cabang duku yang pada awalnya Pdt.Yohanes Mardi yang memimpin, ketika selesai ibadah pagi di GSJA Anugerah BumiAyu dan sorenya ke GSJA Duku, namun karena beberapa hal yang berkaitan dengan kepemimpinan Pdt. Yohanes Mardi di GSJA Anugerah BumiAyu maka pelayan diembankan kepada bapak Quinsa namun dibawah pimpinan Pdt. Yohanea Mardi. Jumlah jemaat duku ada 40 jiwa, namun yang hadir  hanya beberapa sekitar 20-26 karena beberapa jemaat yang lain ada yang kerja.
Selain GSJA Anugerah BumiAyu memiliki cabang, juga memiliki PPA dengan jumlah anak-anak 120 orang baik dari yang belum sekolah sampai pada tingkat perguruan tinggi atau kulia.

E.     Metode pendekatan
Metode yang digunakan baik hamba-hamba Tuhan dari awal yaitu sosial masyarakat seperti ikut kerja sosial sebagai cara pendekatan dengan masyarakat, dengan pendekatan untuk menjalin persahabatan serta membagun hubungan keakraban sehingga masyarakat dapat didekati dan setelah itu hamba-hamba Tuhan tersebut memasukkan injil. Bukan hanya itu saja meraka juga memberika teladan hidup dengan mau hidup bersama dengan masyarakat setempat di dusun BumiAyu dan melalui pendidikan.
Bahkan menyediakan waktu sepenuh kepada jemaat yang membutuhkan pertolongan melalui doa, penguatan, konseling dan lain sebagainya, dalam hal ini gembala siap dalam waktu apapun ketika jemaat membutuhkan pertolongan.


Bab III
Penutup
Kesimpulan
Berkaitan dengan nama tempat maka tidak ada yang kebetulan dimana GSJA BumiAyu yang mengalami proses baik pergantian pemimpin, sampai pada pergi datangnya jemaat itu semua adalah satu ujian bagi jemaat itu sendiri dan gembala sehingga dapat dihubungkan dengan nama Anugerah yaitu “Bumi yang indah adalah Anugerah dari Tuhan untuk Jemaatnya yang taat dan mau bersandar sepenuhnya kepada Dia yaitu Kristus sebagai kepala Gereja”. Selain dari pada  itu untuk perkembangan sebuah Gereja maka perlu adanya kerja sama antara  gembala dan Jemaat, baik dalam hal materi, doa, bahkan masalah apapun mengenai pertumbuhan gereja harus saling kerja sama.




MakalahCBSA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Pengajaran bertujuan untuk meningkatkan kemapuan, baik kognitif , afektif, maupun psikomotorik. Kegiatan belajar mengajar bukan sekedar menyampaikan dan menerima informasi, tetapi mengelola informasi bagi peningkatan kemampuan anak didik.
Pengajar perlu meningkatkan kemajuan peserta didik untuk mengelola berbagai informasi yang ditemukan anak didik. Dalam hal ini, guru bukanlah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan siswa, melainkan fasilitator, motivator dan pembimbing dalam merangsang keterlibatan inetelktual, sosial-emosional, serta mengoptimalkan siswa untuk mencari, menemukan, meresapkan pengetahuan keterampilan dan sikap siswa. Selanjutnya, penemuan-penemuan siswa dalam proses belajar harus dapat diterapkan dalam kehidupannya dalam arti bukan hanya sebatas pengetahuan (kognitif) siswa saja. Dalam hal ini, siswa adalah investigator, partisipator dan penemu berbagai pembelajaran yang selanjutkan diterapkan dalam hidupnya. Proses inilah yang disebut dengan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).










BAB II
ISI

2.1.Pengertian Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
Menurut Misbah Partika (1987), CBSA adalah proses belajar mengajar yang menggunakan berbagai metode yang menitik beratkan kepada keaktifan yang bersifat fisik, mental, emosional maupun intelektual untuk mencapai tujuan pendidikan yang berhubungan dengan wawasan kognitif, afektif dan psikomotor secara optimal[1].
Menurut Conny Semiawan, CBSA yang dipraktekkan adalah cara belajar siswa aktif yang mengembangkan keterampilan memproseskan perolehan yang meliputi keterampilan-keterampilan mengobservasi, membuat hipotesis, merencanakan penelitian, mengendalikan variable, menafsirkan data, menyususn kesimpulan, membuat prediksi, menerapkan dan mnegkomunikasikan[2]. Proses belajar seperti ini memungkinkan semua siswa akan berpatisipasi dengan aktif sehingga seluruh kemampuan itu dapat dikembangkan dengan maksimal. Sebagai pengajar, guru berperan sebagai motivator, organisator, pengarah dan fasilitator yang juga aktif sehingga materi yang disampaikan mencapai sasaran.
Jadi dapat disimpulkan bahwa CBSA adalah cara mengajar dengan melibatkan aktivitas siswa secara maksimal dalam proses belajar mengajar baik kegiatan mental, intelektual, kegiatan emosional, maupun kegiatan fisik secara terpadu.

2.2. Ciri-Ciri Sekolah Ber-CBSA[3]
Raka Joni (1992: 19-20) mengungkapkan bahwa sekolah yang ber-CBSA dengan baik mempunyai karakteristik berikut:
1)      Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada siswa, sehingga siswa berperan lebih aktif dalam mengembangkan cara-cara belajar mandiri.
2)      Guru adalah pembimbing dalam terjadinya pengalaman belajar.
3)      Tujuan kegiatan tidak hanya untuk sekedar mengejar standar akademis, kegiatan ditekankan untuk mengembangkan kemampuan siswa secara utuh dan setimbang.
4)      Pengelolaan kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada kreativitas siswa, dan memperhatikan kemajuan siswa untuk menguasai konsep-konsep dengan mantap.
5)      Penilaian, dilaksanakan untuk mengamati dan mengukur kegiatan dan kemajuan siswa, serta mengukur berbagai keterampilan yang dikembangkan.

2.3.          Pentingnya CBSA
Cara Belajar Siswa Aktif ( CBSA) sangat penting penerapannya karena:
a.       Guru harus mampu membimbing siswa untuk menemukan fakta dan informasi yang kemudian harus diolah dan dikembangkan. Guru bukanlaha satu-satunya sumber ilmu
b.      Siswa menghayati hal-hal yang dipelajari secara langsung, melalui berbagai bentuk kegiatan nyata
c.       Mengembangkan dan membina kreativitas siswa secara continue
d.      Perbedaan pada siswa dapat diperhatikan oleh guru
e.       Melibatkan seluruh aspek kepribadian siswa sehingga membantu perkembangan kehidupan siswa sutuhnya.

2.4.Penerapan CBSA
Penerapan CBSA dalam proses pembelajaran mengandung resiko yang harus diterima oleh guru, konsekuensi tersebut adalah:
1.      Guru merupakan seorang penglola ( manager ) dan perencana (designer)
2.      Guru dan siswa menerima peran kerja sama ( partnership)
3.      Bahan-bahan pembelajaran dipilih berdasarkan kelayakannya
4.      Pentingnya untuk melakukan indentifikasi dan penuntasan syarat-syarat belajar ( learning requirements )
5.      Siswa dilibatkan dalam belajar
6.      Tujuan ditulis secara jelas
7.      Semua tujuan diukur / tes [4]


2.4. Metode-metode mengajar CBSA
Metode dapat diartikan sebagai cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan pembelajaran[5]. Berikut ini beberapa metode yang dapat digunakan dalam proses belajar CBSA:
a.       Metode pemberian tugas
Metode pemberian tugas atau resitasi adalah cara penyajian bahan pelajaran di mana guru memberikan tugas tertentu agar murid melakukan kegiatan belajar, kemudian harus dipertanggungjawabkannya. Metode ini merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individual maupun kelompok.
b.      Metode eksperimen
Merupakan metode mengajar yang dalam penyajian atas pembahasan materinya melalui percobaan atau mencobakan sesuatu serta mengamati secara proses .
c.       Metode diskusi
Sering digunakan dalam pembelajaran kelompok atau kerja kelompok yang didalamnya melibatkan beberapa orang siswa untuk menyelesaikan tugas atau permasalahan.
d.      Metode karyawisata
Metode ini lebih menitik beratkan perjalanan yang relatif jauh dari kelas atau sekolah untuk mengunjungi tempat-tempat yang berkaitan dengan topik bahasan yang bersifat umum, misalnya mengujungi peninggalan sejarah, perjalanan mengunjungi kebun binatang atau tempat rekreasi dengan mempertimbangkan efektitivitas dan efesiensi dalam mencapai hasil belajar.
e.       Metode bermain peran
Metode bermain peran adalah suatu proses pembelajaran yang dilakuakn dengan cara memerankan seorang tokoh ( manusia maupun binatang).
f.       Metode demonstrasi

Merupakan metode mengajar yang menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung objek atau cara melakukan sesuatu sehingga dapat mempelajarinya secara proses.
g.      Metode sosio drama
Metode Sosio-drama adalah metode mengajar yang dalam pelaksanaannya peserta didik mendapat tugas dari guru untuk mendaramitisasikan suatu situasi sosial yang mengandung problem agar anak didik dapat memecahkan masalah yang muncul dari situasi tersebut[6].
h.      Metode pemecahan masalah
Merupakan salah satu cara yang harus banyak digunakan dalam pembelajaran karena metode pemecahan masalah merupakan metode mengajar yang banyak mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
i.        Metode Tanya jawa
Pertanyaan adalah pembangkit motivasi yang dapat merangsang peserta didik untuk berpikir. Melalui pertanyaan, peserta didik didorong untuk mencari dan menemukan jawaban, anak berpikir dan menghubungkan bagian pengetahuan yang ada pada dirinya[7].
j.        Metode latihan
Metode latihan (drill) atau metode taining merupakan suatu cara mengajar yang abik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu[8].
k.      Metode ceramah
Digunakan dalam dunia pendidikan khususnya dalam pembelajaran secara klasikal. Menurut Sri Anita W, metode ceramah merupakan suatu cara penyajian bahan atau penyampaian bahan pelajaran secara lisan dari guru.
2.5 Indikator CBSA
            Menurut Mckeachi, kadar CBSA dapat diamati melalui tujuh indikator:
1.      Tingkat partisipasi siswa dalam menentukan tujuan kegiatan belajar-mengajar.
2.      Pemberian tekanan pada efektif
3.      Tingkat partisispasi siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar
4.      Penerimaan guru terhadap perbuatan atau kontribusi siswa yang kurang relevan
5.      Peluang yang ada bagi siswa untuk turut mengambil bagian dalam kehidupan sekolah
6.      Peluang yang ada bagi siswa untuk turut mengambil mengambil bagian dalam kehidupan sekolah
7.      Jumlah waktu yang digunakan oleh guru dalam menangani masalah pribadi siswa[9]

2.5. Kelemahan dan Kekurangan CBSA
2.5.1.      Kelebihan
Bagi guru, kelebihan CBSA adalah:
1.      Guru mengetahui gaya belajar masing-masing siswa
2.      Guru lebih selektif dalam memilih strategi pembelajaran dan mampu mengembangkan kreatifitasnya dalam mengajar sesuai gaya belajar anak
3.      Guru menyampaikan pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan pengoptimalan kemampuan anak
Bagi anak, kelebihan CBSA adalah:
1.      Pembelajaran membuat anak lebih kreatif, aktif, dan mandiri
2.      Mengoptimalkan kepribadian siswa sehingga membantu perkembangan kehidupan anak sutuhnya.
3.      Pembelajaran lebih interaktif
4.      Anak banyak “menemukan”
2.5.2.      Kelemahan CBSA
Selain memiliki kelebihan, penerapan CBSA juga memiliki beberapa kelemahan baik bagi guru maupun anak. Kelemahan CBSA bagi guru:
1.      Guru merupakan seorang penglola ( manager ) dan perencana (designer)
2.      Guru harus mengatur kelas
3.      Menentukkan tujuan pembelajaran dengan jelas
4.      Hasil pembelajaran harus dievaluasi
5.      Melibatkan anak secara aktif
6.      Guru memilah bahan pembelejaran sesuai kelayakannya
7.      Guru harus memahami gaya belajar setiap anak
8.      Menuntut kratifitas guru dalam menyajikan pembelajaran
9.      Guru harus menguasai berbagai metode pembelajaran
Kelemahan CBSA bagi anak
1.      Pembelajaran didominasi oleh satu orang: “ anak yang pintar makin pintar, dan yang bodoh makin bodoh”
2.      Anak seolah-olah “ditelantarkan”.

BAB III
KESIMPULAN
Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) adalah suatu cara pendekatanan belajar mengajar dengan melibatkan aktivitas siswa secara maksimal baik kegiatan mental, intelektual, kegiatan emosional, maupun kegiatan fisik secara terpadu. Cara Belajar Siswa Aktif dapat menerapkan beberapa metode seperti metode tanya jawab, diskusi, karyawisata, maupun pemberian tugas. Guru bertanggungjawab sebagai fasilitator, motivator dan pembimbing sehingga siswa menjadi investigator, partisipator dan penemu berbagai pembelajaran yang selanjutnya akan diteapkan dalam hidupnya (tidak terbatas hanya kognitif saja). Dengan demikian CBSA membuat baik guru maupun siswa kreatif dalam belajar mupun proses pembelajaran.

Daftar Pustaka
Dimyati & Mudjiono, 2006. Belajar dan Pembelajaran, , Jakarta:Rineka Cipta
La Iru, La Ode Safiun Arihi, 2012. Analisis penerapan Pendekatan, Metode, Strategi, dan Model-model Pembelajaran, , Multi Presindo: Bantul
Rida Sinaga, 2014. Bahan Kuliah: Strategi Pembelajaran PAK, Salatiga
Syaiful Sagala, 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran, ALFABETA:Bandung
W.Gulo, 2008. Strategi Belajar Mengajar, PT Gramedia: Jakarta





[1]  Rida Sinaga, Bahan Kuliah: Strategi Pembelajaran PAK, 2014, (Salatiga), hal 93
[2] W.Gulo, Strategi Belajar Mengajar, 2008, (PT Gramedia:Jakarta), hal74
[3] Rida Sinaga, Op.Cit, hal 94
[4]  Dimyati & Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, 2006, (Jakarta:Rineka Cipta) hal 126
[5] La Iru, La Ode Safiun Arihi, Analisis penerapan Pendekatan, Metode, Strategi, dan Model-model Pembelajaran, 2012, (Multi Presindo: Bantu l), hal 4
[6] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (ALFABETA: Bandung2009), hal 213
[7] Ibid hal 203
[8] Ibid hal 217
[9] Ibid hal 76